Siang yang begitu panas, padahal di Sukabumi ko bisa panas banget, sebelas dua belas deh sama Jakarta. Si Yudi malah sudah gak pake baju, sambil telentang diteras pos ronda.
“Serasa bule di bali…!” Kata si Yudi,
tanpa malu bulu ketek berkibar kemana-mana.
Berstatus pengangguran memang mengenaskan, saat semua orang lagi pada sibuk kerja, kita malah leyah-leyeh santai di pos ronda, dari pada bengong kaya sapi ompong, apalagi didepan mata disuguhi pemandangan
yang merusak memory indah dalam ingatan, yaitu ketek si Yudi yang sudah seperti hutan belantara, maka muncullah ide
brilian dari ku.
“Bro, mending metik
mangga yuck!” kata ku.
“Wih.. Berangkat..!” sahut si Sandi antusias,
diikuti si Yusuf dan Yudi.
Ga biasanya ide ku disambut sorak sorai mahluk-mahluk malas yang
mengenaskan, biasanya paling dapet lemparan sandal.
Kita berempatpun, berbondong-bondong menuju pohon mangga, yang letaknya deket pemandian umum warga.
Maklumlah namanya juga di
kampung, gak semua penduduk punya kamar mandi sendiri dirumahnya, so
mereka mandi dan nyuci di pemandian umum yang letaknya dibawah kebun milik Bapak.
Pemandian itu terbuat dari bambu, dan sekelilingnyapun hanya ditutupi anyaman dari bambu
yang setinggi pinggang orang dewasa. Lumayanlah bisa nutupin badan, tapi tetap saja jika kita berada ditempat yang lebih tinggi maka pemandangan
didalam pemandian bisa terlihat dengan jelas, maksud tempat yang
lebih tinggi itu artinya, harus bisa terbang, karena pemandian umum itu memang
tidak beratap.
Dengan alasan takut ketinggian, aku gak ikut manjat, padahal mah, memang
gak bisa manjat.
”Orang kampung ko, gak bisa manjat?” Ledek kakek, sambil jambak-jambak rambut kritingku.
Hal itu biasa kakek lakukan, saat beliau masih ada.
Akhrinya aku hanya duduk manis, nungguin si
Yusuf,
Yudi,
dan Sandi yang lagi sibuk gelantungan milih mangga dengan
mulut gak berenti ngoceh, mirip banget sama om mongky hehehe.
Anehnya, makin lama, ko suara mereka semakin tak terdengar lagi, aku yang curiga, langsung ngecek keadaan mereka, siapa tau mereka sedang asyk kencan sama mongky betina, hehehe.
Lah... Lah… Lah... Ko mereka pada ngumpul disatu dahan yang
sama, dan dari gelagatnya, sepertinya mereka sedang memperhatikan sesuatu yang
ada di pemandian, kerana arah pandangan mereka kompak, tertuju kesana.
“Woi, pada ngapain lo semua?” tanya ku penasaran.
“Sssttt... brisik lo Bi!” jawab mereka kompak.
“Bi... naik sini, ada mangga muda loh hohoho!” ajak si
Yudi.
Melihat kelakuan aneh
mereka, aku semakin curiga, lalu aku mencari posisi yang tepat, supaya bisa melihat
apa yang sebenarnya sedang mereka perhatikan, dan ternyata, samar terlihat dari celah anyaman bambu, ada seseorang sedang mencuci, mungkinkah mereka?
“Ah sial! sayang aku gak bisa manjat.” Umpatku dalam
hati.
Namun, karena saking penasarannya, akhirnya aku memberanikan
diri untuk majat pohon mangga yang sebenarnya cukup mudah untuk dipanjat, gak
seperti pohon kelapa, yang harus punya keahlian khusus untuk memanjatnya.
“Eh Cumi, ngapain lo?
Katanya gak bisa manjat?” seru si Sandi, dengan suara pelan seperti berbisik.
“Penasaran gw, lo
pada ngapain sih?” jawabku.
Walaupun kedua tangan
dan kakiku gemeteran, aku tetap saja mendekati ketiga orang temanku itu, karena
begitu ingin tau, pemandangan seperti apa yang sedang mereka saksikan.
“Krek... Krek..!” terdengar bunyi aneh dari ujung dahan,
saat aku merayap mendekati mereka.
Mungkin saking
khusunya, tidak ada satupun
dari ketiga
temanku, yang perduli
terhadap tanda-tanda alam itu, bodohnya aku sendiri malah terus saja merayap,
mendekati mereka.
“Brak...!!!” akhirnya dahan itu patah, dan aku beserta ketiga orang temanku, terjun bebas.
“Argh....!!!” aku teriak sekencang-kencangnya.
Gila! lebih serem dari pada naik kora-kora di Dufan, bayangkan saja, tinggi batang pohon mangga
itu sekitar empat meter dari permukaan tanah sodara-sodara, beruntung kita jatuh tepat ke kolam ikan yang sengaja Bapak buat.
”Byur... !" tubuhku terhempas ke kolam.
Bushet!
Badanku basah kuyup, si Yusuf malah nyungsep di parit beruntung dahan tadi gak menimpa kepala plontosnya, padahal nyaris
saja, si Yudi terkapar tak
berdaya, sementara si Sandi? Lah… si Sandi dimana? aku celingak-celinguk nyariin dia, eh ternyata si Sandi nyangkut di pohon rambutan.
Aku merebahkan tubuh
diatas rerumputan, berusaha menghilangkan ketegangan, akibat kejadian
menegangkan beberapa detik yang lalu.
“Elo sih, pake ikutan
manjat!” Umpat si Sandi, entah kapan dia turun dari pohon rambutan.
“Iya nih, lagi asyk
juga!” saut si Yudi.
“Lah, gw kan
penasaran!” jawab ku.
“Nyesel lo! Kapan
lagi liat si Dewi mandi!” balas si Yusuf, sambil cengengesan.
Whats si Dewi? Mandi?
Entah kenapa badanku langsung panas dingin.
“Serius lo?” hanya
itu kalimat bodoh yang bisa ku ucapkan, saking kagetnya, hehehe.
“Biasa aja dong, gak
usah ngiler, Ahahaah.” Ledek si Yudi.
“Jangan bokis lo Suf,
si Dewi lagi nyuci juga!, kasian noh anak orang jadi mupeng.” Seru si Sandi.
“Tapi, kalo si cumi
gak ikutan manjat, pasti bisa tuh liat si Dewi mandi, apes dah!” umpat si Yudi.
Si Yudi kesel banget
sepertinya, wajar saja sih karena si Dewi salah satu bunga Desa yang sedang
mekar-mekarnya dan jadi idola banyak pria.
“Bro ayo cabut, si
Dewi jalan kearah sini!” seru si Sandi.
Namun ternyata usaha
kita untuk sembunyi terlambat, karena si Dewi lebih dulu sampai, dia menatap
kami berempat, dengan tatapan tajam, penuh kecurigaan, walaupun tak ada sepatah
katapun darinya, dia hanya berlalu begitu saja.
No comments:
Post a Comment