Mungkin pada umumnya, orang-orang akan
mengenal kopi tubruk, kopi jahe, kopi susu, atau kopi luak yang ngetrand sampai
negri paman sam, tapi tentunya, mereka gak akan mengenal kopi yang satu ini, bahkan
ahli kopi sekalipun aku jamin pasti gak bakalan tau hehehe.
Kopi yang spesial itu adalah, kopi
second, produk asli dai kampungku, yang gak akan bisa ditemui ditempat lain, karena
memang cuman ada di kampungku saja, tepatnya didalam pos ronda heu heu.
Penyajiannya biasa saja,
gak ada yang spesial, karena gak ditambahin susu atau jahe, hanya saja bahan
yang digunakannya sedikit berbeda, karena menggunakan ampas kopi yang biasanya
dibuang karena sudah gak mungkin dinikmati lagi, tapi karena desakan ekonomi dan
kebutuhan akan kopi yang tak bisa dihindari, akhirnya ampas itu diseduh lagi
yang akan membuat rasanya sedikit aneh, tapi tidak sedikitpun merusak aroma
khas dari kopi itu sendiri, maka lahirlah kopi second.
“Yang penting
wanginya masih kopi!” kata si Yudi, sambil nyengir.
“Go Green bro, daur
ulang!” tambah si Yusuf, tak kalah konyol, dan entah dapat dari mana dia
istilah itu.
Ya… Begitulah nasib
naas para pengangguran, saking bokenya, sampai minum kopi saja segelas
bareng-bareng, mending kalo orangnya sedikit, ini kadang ada empat bahkan
sampai enam orang bro, otomatis dengan menjungjung rasa kebersamaan yang sangat
tinggi, kita harus rela membagi segelas kopi itu dengan seadil-adilnya.
Malah tak jarang
saking masih pengennya ngopi, ampas kopi yang harusnya dibuang malah diseduh
lagi, atau yang biasa kita sebut kopi second, entah siapa yang pertama kali
ngasih nama, gak ada yang perduli, yang penting mah, masih bisa ngopi hehehehe.
Padahal harga kopi
sasetan yang paling murah saja harganya gak sampai sepuluh ribu ya, tapi memang
dasar pengangguran yang sudah kehilangan suplay uang jajan dari orang tua,
rasanya kalau nemu duit dua ribu perak saja sudah seperti nemuin harta karun.
Bukan hal yang aneh
juga jika tiba-tiba pos ronda jadi gaduh gara-gara rebutan kopi, miris sekali
memang, orang diluaran sana rebutan kerjaan, rebutan kereta, rebutan tiket
nonton timnas, lah kita malah rebutan kopi.
“Eh, elo kan tadi
udah Suf?” bentak si Yudi, yang curiga si Yusuf sudah melebihi kuotanya
nyeruput kopi.
“Ah,berisik loh jadi
kalah kan gw!” umpat si Yusuf, sambil ngelempar kartu gaple ditangannya yang
gak habis.
Si Yusuf sama si Yudi
memang yang paling sering berantem gara-gara masalah kopi, padahal mereka itu
sodara kandung loh dan umur merekapun hanya terpaut satu tahun. Apa mungkin
justru karena mereka sodaraan, makanya berantem mulu kaya Tom and Jerry hehehe.
Kopi memang sesuatu
yang prestisius buat kami, bisa mempererat persahabatan, tapi juga bisa memicu
pertengkaran, tapi gara-gara kopi juga pernah terjadi sebuah peristiwa lucu dan
langka yang terjadi di pos ronda.
Suatu hari, Bapak RW
yang merupakan orang paling disegani dikampung, ikut nongkrong di pos ronda,
karena memang dia rutin seminggu sekali ngontrol keamanan kampung dan ikut
berbaur dengan kami, katanya sih, sekalian ngontrol aktifitas kami.
“Tenang aja pak, kita
semua orang baik ko hehehehe” seru si Yusup sambil cengar-cengir.
Kebetulan hari itu
kita lagi boke-bokenya, aku gak dapet uang jajan dari Ibu, sementara anak-anak
hari itu pada gak dapet job.
“Bisnis nyari rumput, lagi sepi euy!” kata si
Yudi, yang selama nganggur dia berprofesi sebagai pancari rumput freelance, tentunya rumput itu buat
makan ternak.
Alhasil, anak-anak
yang sudah kecanduan ngopi, cuman bisa nyeduh segelas kopi, itu juga duitnya
hasil kerja kerasku ngorek-ngorek isi dompet Ibu, yang terkulai tak berdaya
diatas meja.
Dengan rakyat yang
banyak, tentuya segelas kopi gak bertahan lama, karena hanya dalam hitungan
menit, tinggal ampasnya saja yang tersisa.
Si Yusuf yang masih
pengen ngopi, berinisatif nyeduh lagi kopi, dengan menuangkan air panas kedalam
gelas yang masih berisi ampas kopi.
“Sayang kalo ga dimanfaatkan!” kata Yusuf
sambil cengar –cengir.
“Wah... kebetulan
banget, lagi pada ngopi neh?”
Tiba-tiba Pak RW
datang, dan tanpa diduga dia langsung menyambar kopi yang baru selesai dibuat
si Yusuf.
Dia memang sangat
supel dan akrab sama pemuda, so hal seperti itu sudah gak aneh, walaupun
usianya sudah menginjak kepala lima loh.
Aku sama anak-anak
yang tau itu kopi sudah engga original lagi, gak bisa berbuat apa-apa, karena
terlanjur kopi itu udah masuk tenggorokannya.
“Loh! kopi apaan neh? ko rasanya aneh?”
Pak RW mencibir bibirnya sambil mengerutkan
dahi, setelah meminum kopi ajaib itu.
Sebenernya aku sudah
gak sanggup nahan pengen ketawa, melihat reaksi Pak RW, tapi berhubung dia
orang yang paling kita segani, so sebisa mungkin aku tahan perasaan itu, dan
sepertinya anak-anak juga, gak juah beda deh.
“Maaf Pak, itu kopi
second!“
Sambil berusaha
menahan tawa, si Sandi ngasih informasi yang gak penting sama sekali, tapi Pak
RW malah lebih mengerutkan dahinya lagi.
“Kopi second? Beli
dimana nih?” tanya Pak RW penasaran.
Coba deh bayangin
rasanya naik kora-kora tapi gak bisa teriak, gara-gara mulut lagi sariawan, nah
seperti itulah yang aku rasakan saat itu, pengen ketawa ngakak tapi terpaksa
ditahan, karena gak enak sama sesepuh hehehe.
Kopi ko second hehehehe
ReplyDeleteHahahaha
ReplyDelete