Thursday, August 9, 2018

Part 1 : Kopi Second


Mungkin pada umumnya, orang-orang akan mengenal kopi tubruk, kopi jahe, kopi susu, atau kopi luak yang ngetrand sampai negri paman sam, tapi tentunya, mereka gak akan mengenal kopi yang satu ini, bahkan ahli kopi sekalipun aku jamin pasti gak bakalan tau hehehe.

Kopi yang spesial itu adalah, kopi second, produk asli dai kampungku, yang gak akan bisa ditemui ditempat lain, karena memang cuman ada di kampungku saja, tepatnya didalam pos ronda heu heu.

Penyajiannya biasa saja, gak ada yang spesial, karena gak ditambahin susu atau jahe, hanya saja bahan yang digunakannya sedikit berbeda, karena menggunakan ampas kopi yang biasanya dibuang karena sudah gak mungkin dinikmati lagi, tapi karena desakan ekonomi dan kebutuhan akan kopi yang tak bisa dihindari, akhirnya ampas itu diseduh lagi yang akan membuat rasanya sedikit aneh, tapi tidak sedikitpun merusak aroma khas dari kopi itu sendiri, maka lahirlah kopi second.

“Yang penting wanginya masih kopi!” kata si Yudi, sambil nyengir.

“Go Green bro, daur ulang!” tambah si Yusuf, tak kalah konyol, dan entah dapat dari mana dia istilah itu.

Ya… Begitulah nasib naas para pengangguran, saking bokenya, sampai minum kopi saja segelas bareng-bareng, mending kalo orangnya sedikit, ini kadang ada empat bahkan sampai enam orang bro, otomatis dengan menjungjung rasa kebersamaan yang sangat tinggi, kita harus rela membagi segelas kopi itu dengan seadil-adilnya.

Malah tak jarang saking masih pengennya ngopi, ampas kopi yang harusnya dibuang malah diseduh lagi, atau yang biasa kita sebut kopi second, entah siapa yang pertama kali ngasih nama, gak ada yang perduli, yang penting mah, masih bisa ngopi hehehehe.

Padahal harga kopi sasetan yang paling murah saja harganya gak sampai sepuluh ribu ya, tapi memang dasar pengangguran yang sudah kehilangan suplay uang jajan dari orang tua, rasanya kalau nemu duit dua ribu perak saja sudah seperti nemuin harta karun.

Bukan hal yang aneh juga jika tiba-tiba pos ronda jadi gaduh gara-gara rebutan kopi, miris sekali memang, orang diluaran sana rebutan kerjaan, rebutan kereta, rebutan tiket nonton timnas, lah kita malah rebutan kopi.

“Eh, elo kan tadi udah Suf?” bentak si Yudi, yang curiga si Yusuf sudah melebihi kuotanya nyeruput kopi.

“Ah,berisik loh jadi kalah kan gw!” umpat si Yusuf, sambil ngelempar kartu gaple ditangannya yang gak habis.

Si Yusuf sama si Yudi memang yang paling sering berantem gara-gara masalah kopi, padahal mereka itu sodara kandung loh dan umur merekapun hanya terpaut satu tahun. Apa mungkin justru karena mereka sodaraan, makanya berantem mulu kaya Tom and Jerry hehehe.

Kopi memang sesuatu yang prestisius buat kami, bisa mempererat persahabatan, tapi juga bisa memicu pertengkaran, tapi gara-gara kopi juga pernah terjadi sebuah peristiwa lucu dan langka yang terjadi di pos ronda.

Suatu hari, Bapak RW yang merupakan orang paling disegani dikampung, ikut nongkrong di pos ronda, karena memang dia rutin seminggu sekali ngontrol keamanan kampung dan ikut berbaur dengan kami, katanya sih, sekalian ngontrol aktifitas kami.

“Tenang aja pak, kita semua orang baik ko hehehehe” seru si Yusup sambil cengar-cengir.
Kebetulan hari itu kita lagi boke-bokenya, aku gak dapet uang jajan dari Ibu, sementara anak-anak hari itu pada gak dapet job.

 “Bisnis nyari rumput, lagi sepi euy!” kata si Yudi, yang selama nganggur dia berprofesi sebagai pancari rumput freelance, tentunya rumput itu buat makan ternak.

Alhasil, anak-anak yang sudah kecanduan ngopi, cuman bisa nyeduh segelas kopi, itu juga duitnya hasil kerja kerasku ngorek-ngorek isi dompet Ibu, yang terkulai tak berdaya diatas meja.
Dengan rakyat yang banyak, tentuya segelas kopi gak bertahan lama, karena hanya dalam hitungan menit, tinggal ampasnya saja yang tersisa.

Si Yusuf yang masih pengen ngopi, berinisatif nyeduh lagi kopi, dengan menuangkan air panas kedalam gelas yang masih berisi ampas kopi.

 “Sayang kalo ga dimanfaatkan!” kata Yusuf sambil cengar –cengir.

“Wah... kebetulan banget, lagi pada ngopi neh?”

Tiba-tiba Pak RW datang, dan tanpa diduga dia langsung menyambar kopi yang baru selesai dibuat si Yusuf. 

Dia memang sangat supel dan akrab sama pemuda, so hal seperti itu sudah gak aneh, walaupun usianya sudah menginjak kepala lima loh.

Aku sama anak-anak yang tau itu kopi sudah engga original lagi, gak bisa berbuat apa-apa, karena terlanjur kopi itu udah masuk tenggorokannya.

 “Loh! kopi apaan neh? ko rasanya aneh?”

 Pak RW mencibir bibirnya sambil mengerutkan dahi, setelah meminum kopi ajaib itu. 

Sebenernya aku sudah gak sanggup nahan pengen ketawa, melihat reaksi Pak RW, tapi berhubung dia orang yang paling kita segani, so sebisa mungkin aku tahan perasaan itu, dan sepertinya anak-anak juga, gak juah beda deh.

“Maaf Pak, itu kopi second!“ 

Sambil berusaha menahan tawa, si Sandi ngasih informasi yang gak penting sama sekali, tapi Pak RW malah lebih mengerutkan dahinya lagi.

“Kopi second? Beli dimana nih?” tanya Pak RW penasaran.

Coba deh bayangin rasanya naik kora-kora tapi gak bisa teriak, gara-gara mulut lagi sariawan, nah seperti itulah yang aku rasakan saat itu, pengen ketawa ngakak tapi terpaksa ditahan, karena gak enak sama sesepuh hehehe.


2 comments:

Post Populer