Sore itu, aku
nongkrong sendirian di saung buatan Uwa seperti hari-hari sebelumnya, tapi sore
itu berbeda, karena aku sedang menunggu seseorang yang katanya biasa lewat
dijalan setapak yang sepi itu.
Akhirnya setelah
menanti selama hampir satu jam, orang yang ditunggupun datang, terlihat dari
kejauhan dia berjalan menyusuri jalan setapak, tepat disamping kanan kirinya
berupa hamparan sawah yang baru ditanami.
“Hay Dew!” Sapaku,
semanis mungkin.
Namun orang yang aku
sapa malah melengos, dan berlalu begitu saja, tanpa sedikitpun menoleh.
“Dewi, tunggu
bentar.” Pintaku lagi, seraya menyambar tangannya, untuk menghentikan langkah
kakinya yang berusaha menjauh.
“Apa sih,
pegang-pegang!” bentaknya, sebuah respon yang tentu saja mengejutkan.
“Lo kenapa sih Dew,
gw cuman mau ngomong bentar!”
“Udahlah, lo ga
dateng kerumah aja itu udah cukup buat
gw!”
“Ya, gak gitu juga
Dew, ada yang musti gw jelasin!”
“Lo mau jelasin apa
Bi? Lo mau jelasin kalo gw gak level buat elo?” serunya sinis dan dingin.
“Ko, lo bisa mikir
kaya gitu sih Dew?”
“Kenapa engga? Dari
dulu, lo gak penah liat gw, lo gak pernah nganggap gw ada kan?” lagi-lagi dia
mengintimidasi dengan pertanyaan menyakitkan.
“Dew, sory, dulu itu
gw malu, bukan sombong, angkuh, atau apalah kata orang, kan udah pernah gw
jelasin!”
“Terus, kenapa gak
kerumah?”
“Sory, tapi perasaan
itu gak bisa dipaksain Dew!”
“Lo gak bisa gitu,
pura-pura suka sama gw Bi? Gw udah lama suka sama elo, surat itu udah gw tulis
dari kelas satu SMA, tapi baru kemarin gw berani ngasih!” seru si Dewi dengan
suara parau, diapun menundukan wajahnya, seakan gak mau kesedihannya terilihat
jelas.
“Pura-pura itu
gampang Dew, tapi apa gak akan nyakitin elo nantinya?”
“Sekali lagi gw minta
maaf, lo cantik, baik, tapi perasaan spesial itu gak pernah ada di gw Dew!”
Tiba-tiba saja Dewi
menyandarkan keningnya di dadaku, dengan masih tertunduk, badannya terasa
bergetar, dan isak tangisnya meledak, merayapi sore yang sepi.
“Soryy, gw malu Bi!
Gw begggo banget!”
Aku hanya bisa
mengusap bahunya, berusaha membuatnya tenang, sebenarnya hampir saja aku
terbawa suasana, tapi terganggu gara-gara suara panggilan masuk ke handphone.
“Sssory Dew, gw mau
angkat telpon!” kataku.
“Ah elo, lagi
romantis juga!” jawabnya.
Sebuah jawaban yang
membuatku cukup lega, karena dia sudah kembali seperti biasanya.
“Hallo,
Assalamualaikum!” sapaku.
“Selamat sore, benar
ini dengan sodara Robiansyah?”
“Iya, saya sendiri.”
“Saya dari PT ****
mengundang mas Robi untuk ikut tes penerimaan karyawan baru diperusahaan kami,
apakah bersedia?”
“Oiya, saya siap,
kapan ya?”
“Tolong, di catet ya
mas!”
“Sebentar mba,”
Baru saja aku berniat
untuk meminjam bulpen dan kertas, tapi ternyata si Dewi sudah menyiapkan,
bahkan sudah siap-siap menulis, maka aku acungkan jempol kearahnya sebagai
apresiasi atas kesigapannya.
“Ok, mba saya sudah
siap nyatet!”
Maka si penelpon
pembawa berita gembira itu menyampaikan kapan, dan dimana aku harus mengikuti
tes seleksi penerimaan karyawan baru di perusahaannya, dengan sigap si Dewi
menulis setiap kata yang aku ulang dari si penelpon itu.
“Alhamdulillah Dew,
akhirnya ada juga panggilan kerja!”
“Makasi ya, udah
bantuin nyatet!” kataku, kegirangan, hampir saja aku peluk si Dewi.
“Alhamdulillah gw
ikut seneng Bi, kenapa ga jadi?”
“Gak jadi apa Dew?”
tanyaku, bingung.
“Tadi mau meluk kan?
Nih peluk aja!” seru si Dewi, seraya menegakan kepala dan membuka lebar kedua
tangannya, seolah pasrah.
Gila, cowo mana yang
bisa nolak, hanya cowo bego dan pengecut yang melewatkan kesempatan itu
ahahaha, dan saat itu entah aku bego atau pengecut.
“Engga ah, entar gak
mau gw lepas!” jawabku asal.
“Ya, gak apa-apa
kali!” seru si Dewi lirih, nyaris gak kedengeran.
“Apa Dew?” tanyaku,
takut salah denger.
“Apa si? Awas loh
entar udah kerja lupa sama gw!” ancamnya, dengan tatapan mata yang tajam.
“Tenang, gaji pertama
gw traktir lo makan bakso!”
“Yaelah bakso doang,
shoping lah.”
“Siap, tenang!”
jawabku, padahal keterima aja belum tentu hehehe.
“Serius Bi?” tanya si
Dewi dengan mata berbinar.
“Lah, kirain gw tadi
lo becanda!”
“Argh, elo ga asyk.”
Umpat si Dewi, sambil nyubit tanganku, sumpah sakit banget.
“Awww! Sakit Dew!”
umpatku.
“Rasain!” balasnya.
“Oiya, Dew ada yang
mau gw tanyain!”
“Nanya apa?” jawab si
Dewi, seolah menantang.
“Si sandi katanya
penah nembak elo, tapi lo tolak, bener ga?”
“Iya, bener!”
jawabnya dingin, sambil kembali melangkahkan kakinya, padahal sebelumnya dia terlihat
nyaman disamping ku.
“Terus dia bilang, lo
ngatain dia orang…”
“Ngataian apa? Orang
kampung? Orang susah?” tiba-tiba saja si Dewi motong perkataanku dan
menghentikan langkahnya serta berbalik kearahaku, dengan tatapan yang tidak
menyenangkan.
Sumpah nyesel juga
aku menanyakan masalah si Sandi itu, karena ternyata langsung merubah suasana
hati si Dewi, dan rupanya si Dewi termasuk orang dengan suasana hati yang cepat
sekali berubah.
“Iiiiyaaa.” Jawabku
gugup, diplototin si Dewi.
“Wajarlah gw ngomong
kaya gitu, asal lo tau Bi, gw udah nolak dia baik-baik, tapi temen lo itu
ngeyel, malah ngatain gw sok jual mahal, mana bau jigong, kucel, mana ada cewe
yang respek!”
Aku terdiem, gak
mampu berkata apa-apa, setelah mendengar penjelasan si Dewi, entah siapa yang
harus aku percaya, karena mereka dua-duanya temanku.
“Ko Diem Bi?” tanya
si Dewi, masih dengan tatapan mata yang tidak bersahabat.
“Kaget aja gw, gak
nyangka lo se marah itu!”
“Sumpah gw tuh kesel
banget sama temen lo itu, dia gak tau gimana caranya, menghargai cewe, emang
dia pikir semua cewe gampangan apa?” umpat si Dewi, entah apa aja yang udah si
Sandi lakukan, sampai-sampai dia semarah itu.
“Lagian, ngapain sih
lo ngurusin si Sandi, ngerusak suasana hati aja!” tambahnya, terlihat masih
sangat kesal.
“Soorrry Dew, gw
penasaran aja, soalnya si Sandi, kaya terpukul gitu!”
“Ahahahaha, orang
macam dia bisa terpukul, ngelawak lo Bi!” ledek si Dewi.
“Serius, dia sampe
kabur ke Bekasi loh!”
“Ow, dia ke Bekasi toh, pantes gak pernah keliatan, bagus
deh yang jauh aja sekalian!” umpatnya.
“Husss, jangan gitu ah! Jelek-jelek gitu juga
teman gw!”
“Iya.. Iya..!” balas
si Dewi, dan kembali melangkahkan kakinya.
“Sekali lagi, Sory ya
Dew, gw gak tau kejadian sebenarnya makanya nanya!”
“Iya, iya Bi, bawel!”
ketusnya, lalu berjalan lebih cepat dan meninggalkan ku.
Entahlah hari itu, aku harus seneng atau
galau, semuanya campur aduk, sudah seperti bubur ayam yang diaduk-aduk tapi gak
dimakan.
No comments:
Post a Comment