Monday, April 8, 2019

Part 12 : Galau vs Senang



Sore itu, aku nongkrong sendirian di saung buatan Uwa seperti hari-hari sebelumnya, tapi sore itu berbeda, karena aku sedang menunggu seseorang yang katanya biasa lewat dijalan setapak yang sepi itu.

Akhirnya setelah menanti selama hampir satu jam, orang yang ditunggupun datang, terlihat dari kejauhan dia berjalan menyusuri jalan setapak, tepat disamping kanan kirinya berupa hamparan sawah yang baru ditanami. 

“Hay Dew!” Sapaku, semanis mungkin.

Namun orang yang aku sapa malah melengos, dan berlalu begitu saja, tanpa sedikitpun menoleh. 

“Dewi, tunggu bentar.” Pintaku lagi, seraya menyambar tangannya, untuk menghentikan langkah kakinya yang berusaha menjauh.

“Apa sih, pegang-pegang!” bentaknya, sebuah respon yang tentu saja mengejutkan.

“Lo kenapa sih Dew, gw cuman mau ngomong bentar!”

“Udahlah, lo ga dateng kerumah  aja itu udah cukup buat gw!”

“Ya, gak gitu juga Dew, ada yang musti gw jelasin!”

“Lo mau jelasin apa Bi? Lo mau jelasin kalo gw gak level buat elo?” serunya sinis dan dingin.

“Ko, lo bisa mikir kaya gitu sih Dew?”

“Kenapa engga? Dari dulu, lo gak penah liat gw, lo gak pernah nganggap gw ada kan?” lagi-lagi dia mengintimidasi dengan pertanyaan menyakitkan.

“Dew, sory, dulu itu gw malu, bukan sombong, angkuh, atau apalah kata orang, kan udah pernah gw jelasin!”

“Terus, kenapa gak kerumah?”

“Sory, tapi perasaan itu gak bisa dipaksain Dew!”

“Lo gak bisa gitu, pura-pura suka sama gw Bi? Gw udah lama suka sama elo, surat itu udah gw tulis dari kelas satu SMA, tapi baru kemarin gw berani ngasih!” seru si Dewi dengan suara parau, diapun menundukan wajahnya, seakan gak mau kesedihannya terilihat jelas.

“Pura-pura itu gampang Dew, tapi apa gak akan nyakitin elo nantinya?”

“Sekali lagi gw minta maaf, lo cantik, baik, tapi perasaan spesial itu gak pernah ada di gw Dew!” 

Tiba-tiba saja Dewi menyandarkan keningnya di dadaku, dengan masih tertunduk, badannya terasa bergetar, dan isak tangisnya meledak, merayapi sore yang sepi.

“Soryy, gw malu Bi! Gw begggo banget!”

Aku hanya bisa mengusap bahunya, berusaha membuatnya tenang, sebenarnya hampir saja aku terbawa suasana, tapi terganggu gara-gara suara panggilan masuk ke handphone.

“Sssory Dew, gw mau angkat telpon!” kataku.

“Ah elo, lagi romantis juga!” jawabnya.

Sebuah jawaban yang membuatku cukup lega, karena dia sudah kembali seperti biasanya.
“Hallo, Assalamualaikum!” sapaku.

“Selamat sore, benar ini dengan sodara Robiansyah?” 

“Iya, saya sendiri.”

“Saya dari PT **** mengundang mas Robi untuk ikut tes penerimaan karyawan baru diperusahaan kami, apakah bersedia?”

“Oiya, saya siap, kapan ya?”

“Tolong, di catet ya mas!”

“Sebentar mba,”

Baru saja aku berniat untuk meminjam bulpen dan kertas, tapi ternyata si Dewi sudah menyiapkan, bahkan sudah siap-siap menulis, maka aku acungkan jempol kearahnya sebagai apresiasi atas kesigapannya.

“Ok, mba saya sudah siap nyatet!”

Maka si penelpon pembawa berita gembira itu menyampaikan kapan, dan dimana aku harus mengikuti tes seleksi penerimaan karyawan baru di perusahaannya, dengan sigap si Dewi menulis setiap kata yang aku ulang dari si penelpon itu.

“Alhamdulillah Dew, akhirnya ada juga panggilan kerja!” 

“Makasi ya, udah bantuin nyatet!” kataku, kegirangan, hampir saja aku peluk si Dewi.

“Alhamdulillah gw ikut seneng Bi, kenapa ga jadi?”

“Gak jadi apa Dew?” tanyaku, bingung.

“Tadi mau meluk kan? Nih peluk aja!” seru si Dewi, seraya menegakan kepala dan membuka lebar kedua tangannya, seolah pasrah.

Gila, cowo mana yang bisa nolak, hanya cowo bego dan pengecut yang melewatkan kesempatan itu ahahaha, dan saat itu entah aku bego atau pengecut.

“Engga ah, entar gak mau gw lepas!” jawabku asal.

“Ya, gak apa-apa kali!” seru si Dewi lirih, nyaris gak kedengeran.

“Apa Dew?” tanyaku, takut salah denger.

“Apa si? Awas loh entar udah kerja lupa sama gw!” ancamnya, dengan tatapan mata yang tajam.

“Tenang, gaji pertama gw traktir lo makan bakso!”

“Yaelah bakso doang, shoping lah.” 

“Siap, tenang!” jawabku, padahal keterima aja belum tentu hehehe.

“Serius Bi?” tanya si Dewi dengan mata berbinar.

“Lah, kirain gw tadi lo becanda!” 

“Argh, elo ga asyk.” Umpat si Dewi, sambil nyubit tanganku, sumpah sakit banget.

“Awww! Sakit Dew!” umpatku.

“Rasain!” balasnya.

“Oiya, Dew ada yang mau gw tanyain!”

“Nanya apa?” jawab si Dewi, seolah menantang.

“Si sandi katanya penah nembak elo, tapi lo tolak, bener ga?”

“Iya, bener!” jawabnya dingin, sambil kembali melangkahkan kakinya, padahal sebelumnya dia terlihat nyaman disamping ku.

“Terus dia bilang, lo ngatain dia orang…”

“Ngataian apa? Orang kampung? Orang susah?” tiba-tiba saja si Dewi motong perkataanku dan menghentikan langkahnya serta berbalik kearahaku, dengan tatapan yang tidak menyenangkan.

Sumpah nyesel juga aku menanyakan masalah si Sandi itu, karena ternyata langsung merubah suasana hati si Dewi, dan rupanya si Dewi termasuk orang dengan suasana hati yang cepat sekali berubah.

“Iiiiyaaa.” Jawabku gugup, diplototin si Dewi.
“Wajarlah gw ngomong kaya gitu, asal lo tau Bi, gw udah nolak dia baik-baik, tapi temen lo itu ngeyel, malah ngatain gw sok jual mahal, mana bau jigong, kucel, mana ada cewe yang respek!”

Aku terdiem, gak mampu berkata apa-apa, setelah mendengar penjelasan si Dewi, entah siapa yang harus aku percaya, karena mereka dua-duanya temanku.

“Ko Diem Bi?” tanya si Dewi, masih dengan tatapan mata yang tidak bersahabat.

“Kaget aja gw, gak nyangka lo se marah itu!” 

“Sumpah gw tuh kesel banget sama temen lo itu, dia gak tau gimana caranya, menghargai cewe, emang dia pikir semua cewe gampangan apa?” umpat si Dewi, entah apa aja yang udah si Sandi lakukan, sampai-sampai dia semarah itu.

“Lagian, ngapain sih lo ngurusin si Sandi, ngerusak suasana hati aja!” tambahnya, terlihat masih sangat kesal.

“Soorrry Dew, gw penasaran aja, soalnya si Sandi, kaya terpukul gitu!”

“Ahahahaha, orang macam dia bisa terpukul, ngelawak lo Bi!” ledek si Dewi.

“Serius, dia sampe kabur ke Bekasi loh!”

“Ow, dia ke  Bekasi toh, pantes gak pernah keliatan, bagus deh yang jauh aja sekalian!” umpatnya.

 “Husss, jangan gitu ah! Jelek-jelek gitu juga teman gw!”

“Iya.. Iya..!” balas si Dewi, dan kembali melangkahkan kakinya.

“Sekali lagi, Sory ya Dew, gw gak tau kejadian sebenarnya makanya nanya!”

“Iya, iya Bi, bawel!” ketusnya, lalu berjalan lebih cepat dan meninggalkan ku.

 Entahlah hari itu, aku harus seneng atau galau, semuanya campur aduk, sudah seperti bubur ayam yang diaduk-aduk tapi gak dimakan.
















No comments:

Post a Comment

Post Populer