“Mah, akhirnya ada
panggilan tes kerja!” teriakku sesampainya dirumah, mirip bocah yang kegirangan
nemu duit gopean.
“Owgh! Dimana?” jawab
Ibu, sambil sibuk dengan peralatan dapurnya, kebetulan memang lagi masak.
“Di Jakarta, tesnya
di daerah Pulo Gadung” jawabku, masih semangat, walaupun reaksi Ibu biasa saja,
gak sesuai ekspektasi.
“Kapan?”
“Hari senin, besok!”
“Yaudah, siap-siap, berangkat
ke Jakarta!”
Gitu doang? aku pikir
Ibu akan lebih antusias dari itu, tapi ya sudahlah, mungkin dia lagi sibuk
masak, dan takut masakannya kurang bumbu atau malah gosong, atau memang sudah
lama sekali Ibu berharap aku cepat pergi dari mah, hehehe.
Maksudnya pengen aku
cepet, dapet kerjaan.
Jakarta memang bukan
tempat yang asing bagiku, Bapak dan sodara-sodaraku, merantau di Jakarta sudah
bertahun-tahun, bahkan katanya saat Bapak pertama kali datang ke Jakarta, waktu
itu Jakarta masih kampung banget, masih banyak pohon, belum banyak gedung,
bahkan kalinya saja masih bisa dipakai mandi dan mencuci, kalo sekarang, jangankan manusia, kodok saja males nyemplung
ke kali Jakarta, hehehe.
Aku pun lahir di
Jakarta, karena setelah menikah Bapak mengajak Ibu tinggal di Jakarta, walaupun
hanya numpang lahir saja, karena diumur lima tahun aku dibawa balik ke kampung
dan akhirnya menetap sebagai orang kampung, gara-garanya aku sering
sakit-sakitan waktu tinggal di Jakarta, mungkin Robi kecil gak cocok dengan
udara panas, dan kejamnya Ibu Kota yang katanya lebih kejam dari Ibu Tiri.
Waktu aku masih
lucu-lucunya, Bapak sering sekali ngajak jalan-jalan ke Jakarta, minimal
sebulan dua kali, karena kebetulan waktu itu kondisi kuangan Bapak memang masih
mumpuni untuk jalan-jalan, tapi setelah si Ridwan, adikku yang pertama lahir,
di susul Si Rio beberapa tahun kemudian, dan krisis moneter tahun 98 yang
membuat perkonomian sempat carut-marut, maka rutinitas jalan-jalan itu
menghilang dengan sendirinya, kasihan adik-adikku terutama si bungsu, yang
jarang banget, bahkan hampir gak pernah diajak jalan-jalan.
Untuk urusan mencari
alamat di Jakarta, aku gak perlu khawatir, karena aku punya Uwa yang hobinya
jalan-jalan, hingga dia hafal secara detail setiap seluk beluk Jakarta, maka
untuk mencari alamat tempat tes, yang dilaksanakan di salah satu sekolah
pelayaran yang ada didaerah Pulo Gadung,
maka aku bisa meminta bantuan Uwa sebagai petunjuk jalan, maklum waktu itu aku
belum berkenalan dengan GPS, google map juga belum lahir deh, hehehe.
Pagi itu dihari
sabtu, aku siap berangkat ke Jakarta, namun saat itu berbeda, jika biasanya aku
ke Jakarta tujuannya jalan-jalan entah bareng keluarga atau sendiri, tapi saat
itu pertama kalinya aku akan berangkat ke Jakarta untuk mengejar impian,
walaupun aku gak tau impain ku apa? Karena kerjaan itu bukan impian kalau
menurutku, tapi kebutuhan, walaupun ada sih beberapa orang yang mendapat
pekerjaan sesuai dengan impian mereka.
Setelah bersalaman
dengan Ibu dan meminta doa restu, akhirnya aku bisa melangkahkan kaki dengan
harapan besar dan rasa bangga, walaupun belum tentu juga sih aku bisa diterima
kerja, tapi karena keyakinan dan semangat yang begitu kuat, maka segala
ketakutan akan kegagalan itu seperti gerombolan semut yang terinjak-injak
gajah, mati seketika, hehehe.
“Cieeee, yang mau
merantu! Seru seseorang dari arah belakang.
Siapa lagi cewe di
Kampung yang berani-beraninya hampir setiap ketemu gw, pasti ngeledekin, selain
si Dewi, karena kalau yang lain biasanya paling mesam-mesem doang.
Pagi itu, si Dewi
terlihat sangat manis, dengan blezer merah muda yang membalut seragam putih
abu-abunya.
“Sombong banget,
padahal ngelewatin rumah gw, pamitan dulu ke!” ketus Dewi, seperti biasanya.
“Malu Dew! Hehehe..”
balasku, salah tingkah.
“Halah…! bilang aja
takut digosipin pacaran sama gw kan?” tanya Dewi, sinis dan penuh intimidasi.
“Mulai deh, gak
jelas!” umpatku.
Jujur aku gak pernah
nyaman jika si Dewi selalu bersikap sinis seperti itu, aku yakin dia tau, tapi
sepertinya dia memang sengaja.
“Ini gw jalan pelan
kaya gini, sengaja nunggin elo, biasanya lo brangkat sekolah jam segini kan?”
“Serius Bi? Lo
nungguin gw?” seru Dewi.
Entah reflek atau memang
sengaja, dia nepuk bahuku, mungkin lebih tepatnya mukul karena kenceng banget,
serius walaupun feminim tapi tenaga si Dewi lumayan kenceng, pasti gara-gara
suka bantuin orang tuanya ngambil air bersih, disumber mata air yang jaraknya
hampir lima belas menit jalan kaki dari rumahnya.
Sialnya, waktu itu
aku gak siap menerima serangan mendadak, bahkan kuda-kuda ku aja lemah banget,
hingga tubuhku terhuyung hilang keseimbangan, sialnya lagi, aku sedang berjalan
di jalan setapak yang disamping kanan kirinya sawah, maka untuk menjaga keseimbangan,
kaki dan tanganku berusaha meraih apapun yang bisa diraih.
Maka tak ada rotan,
tangan si Dewipun jadi, tapi karena si Dewi juga sepertinya gak menduga akan
hal itu, diapun malah ikut hilang keseimbangan, hingga akhirnya tak mampu
dihindari lagi, aku jatuh telentang diatas lumpur, karena kebetulan sawahnya
baru ditanami.
Sementara si Dewi
tepat berada diatasku, beruntung jalanan itu memang sepi dan jarang dilewati,
karena walaupun jalan itu merupakan jalan pintas, tapi medannya memang susah
dilewati karena kabanyakan berupa pematang sawah.
Coba kalo adegan gak
sengaja antara aku dan si Dewi itu ada yang liat, apalagi yang melihatnya
Emak-Emak, pasti akan jadi tranding topik, di kampung Pasir Jeungjing.
“Aduh! Sory Bi” seru
si dewi, yang betah berlama-lama diatasku.
“Argh, elo sih Dew,
pake mukul segala!” umpatku, kesal campur deg-degan, karena badan si Dewi
nempel banget.
“Lagian, jadi cowo
lemah banget!” ledeknya.
“Yaudah, tapi sampe
kapan mau gini terus!” balasku, dan berusaha berdiri.
“Eh, sory!” jawab si
Dewi salah tingkah, diapun berdiri dan menjauh.
Yups, celana dan
bajuku blepotan lumpur, tasku juga tak luput dari lumpur, mungkin salah satu
yang membuat keseimbanganku mudah
hilang, gara-gara harus gendong tas yang
lumayan berat karena isinya perlengkapan kemping selama berbulan-bulan, serta
bekel makan siang untuk satu kelurahan, hehehe.
Sementara si Dewi,
bajunya bersih tanpa noda lumpur sedikitpun karena dia jatuh tepat diatasku,
bukan diatas lumpur.
“Ini sih, alamat di
omelin mamah!” umpatku sambil berusaha membersihkan tas yang belepotan lumpur.
“Sory banget Bi, gw
gak maksud!” pinta Dewi, memelas, penuh penyesalan.
“Iya, mau gimana
lagi, udah kejadian!” balasku, kesel campur seneng, gimana gitu rasanya.
Entahlah aku seneng
karena apa, tapi kalau dipikir-pikir sih kejadian waktu itu romantis juga,
mirip adegan klise disinetron indonesia, atau drama korea.
“Yaudah lo brangkat
sekolah aja entar telat lagi, gw mau balik, ganti baju!”
“Tapi lo gak apa-apa
kan ya Bi?” tanya si Dewi, seperti sedang menghawatirkan seorang pacar.
“Tenang aja sih,
Jakarta mah deket, lagian kan gw tes kerja baru senin, gw sengaja berangkat
sabtu, supaya bisa nyari alamat tes dulu besok!”
Setelah mendengar
penjelasan dari ku, akhrinya si Dewi melanjutkan perjalanannya menuju Sekolah,
sementara aku terpaksa balik lagi kerumah.
Sumpah sepanjang
jalan aku risih, karena setiap berpapasan dengan orang lain, mereka pasti
nanya, kenapa? Dari aman? Pertanyaan standar, namun wajar untuk diucapkan
sebagai tanda kepedulian antar sesama mahluk tuhan, tantunya jika tidak dijadikan
bahan pergunjingan, alias gosip.
“Loh? Kenapa Bi? Ko
balik lagi?” tanya Ibu, kebingungan.
“Tadi keserempet kebo,
jatoh deh kesawah!” jawabku, bohong.
“Kamu itu gimana sih,
makanya hati-hati kalo jalan, baru mau berangkat udah balik lagi!” umpat Ibu,
pedes banget kaya cabe ijo.
Wajar dong jika aku berbohong,
karena gak mungkin aku cerita jatuh ke sawah gara-gara si Dewi, bisa berabe ujungnya
entar. Maka bergegas aku masuk kekemar mandi, melepaskan pakian dan sudah
berniat mencuci, namun Ibu melarang, malah menyuruhku langsung ganti baju dan
berangkat ke Jakarta.
Segitu gak
sabarannya, seolah Ibu memang ingin aku cepet-cepet pergi dari rumah, padahal
kalau aku gak ada dirumah jelas Ibu akan sangat dirugikan, karena gak ada yang
bisa Ibu suruh buat beli terasi atau mecin, hehehe.
No comments:
Post a Comment