Monday, April 8, 2019

Part 13 : Adegan Sinetron




“Mah, akhirnya ada panggilan tes kerja!” teriakku sesampainya dirumah, mirip bocah yang kegirangan nemu duit gopean.

“Owgh! Dimana?” jawab Ibu, sambil sibuk dengan peralatan dapurnya, kebetulan memang lagi masak.

“Di Jakarta, tesnya di daerah Pulo Gadung” jawabku, masih semangat, walaupun reaksi Ibu biasa saja, gak sesuai ekspektasi.

“Kapan?”

“Hari senin, besok!” 

“Yaudah, siap-siap, berangkat ke Jakarta!”

Gitu doang? aku pikir Ibu akan lebih antusias dari itu, tapi ya sudahlah, mungkin dia lagi sibuk masak, dan takut masakannya kurang bumbu atau malah gosong, atau memang sudah lama sekali Ibu berharap aku cepat pergi dari mah, hehehe.

Maksudnya pengen aku cepet, dapet kerjaan.

Jakarta memang bukan tempat yang asing bagiku, Bapak dan sodara-sodaraku, merantau di Jakarta sudah bertahun-tahun, bahkan katanya saat Bapak pertama kali datang ke Jakarta, waktu itu Jakarta masih kampung banget, masih banyak pohon, belum banyak gedung, bahkan kalinya saja masih bisa dipakai mandi dan mencuci, kalo sekarang,  jangankan manusia, kodok saja males nyemplung ke kali Jakarta, hehehe.

Aku pun lahir di Jakarta, karena setelah menikah Bapak mengajak Ibu tinggal di Jakarta, walaupun hanya numpang lahir saja, karena diumur lima tahun aku dibawa balik ke kampung dan akhirnya menetap sebagai orang kampung, gara-garanya aku sering sakit-sakitan waktu tinggal di Jakarta, mungkin Robi kecil gak cocok dengan udara panas, dan kejamnya Ibu Kota yang katanya lebih kejam dari Ibu Tiri.

Waktu aku masih lucu-lucunya, Bapak sering sekali ngajak jalan-jalan ke Jakarta, minimal sebulan dua kali, karena kebetulan waktu itu kondisi kuangan Bapak memang masih mumpuni untuk jalan-jalan, tapi setelah si Ridwan, adikku yang pertama lahir, di susul Si Rio beberapa tahun kemudian, dan krisis moneter tahun 98 yang membuat perkonomian sempat carut-marut, maka rutinitas jalan-jalan itu menghilang dengan sendirinya, kasihan adik-adikku terutama si bungsu, yang jarang banget, bahkan hampir gak pernah diajak jalan-jalan.

Untuk urusan mencari alamat di Jakarta, aku gak perlu khawatir, karena aku punya Uwa yang hobinya jalan-jalan, hingga dia hafal secara detail setiap seluk beluk Jakarta, maka untuk mencari alamat tempat tes, yang dilaksanakan di salah satu sekolah pelayaran yang ada didaerah  Pulo Gadung, maka aku bisa meminta bantuan Uwa sebagai petunjuk jalan, maklum waktu itu aku belum berkenalan dengan GPS, google map juga belum lahir deh, hehehe.

Pagi itu dihari sabtu, aku siap berangkat ke Jakarta, namun saat itu berbeda, jika biasanya aku ke Jakarta tujuannya jalan-jalan entah bareng keluarga atau sendiri, tapi saat itu pertama kalinya aku akan berangkat ke Jakarta untuk mengejar impian, walaupun aku gak tau impain ku apa? Karena kerjaan itu bukan impian kalau menurutku, tapi kebutuhan, walaupun ada sih beberapa orang yang mendapat pekerjaan sesuai dengan impian mereka.

Setelah bersalaman dengan Ibu dan meminta doa restu, akhirnya aku bisa melangkahkan kaki dengan harapan besar dan rasa bangga, walaupun belum tentu juga sih aku bisa diterima kerja, tapi karena keyakinan dan semangat yang begitu kuat, maka segala ketakutan akan kegagalan itu seperti gerombolan semut yang terinjak-injak gajah, mati seketika, hehehe.

“Cieeee, yang mau merantu! Seru seseorang dari arah belakang.

Siapa lagi cewe di Kampung yang berani-beraninya hampir setiap ketemu gw, pasti ngeledekin, selain si Dewi, karena kalau yang lain biasanya paling mesam-mesem doang.

Pagi itu, si Dewi terlihat sangat manis, dengan blezer merah muda yang membalut seragam putih abu-abunya.

“Sombong banget, padahal ngelewatin rumah gw, pamitan dulu ke!” ketus Dewi, seperti biasanya.

“Malu Dew! Hehehe..” balasku, salah tingkah.

“Halah…! bilang aja takut digosipin pacaran sama gw kan?” tanya Dewi, sinis dan penuh intimidasi.

“Mulai deh, gak jelas!” umpatku.

Jujur aku gak pernah nyaman jika si Dewi selalu bersikap sinis seperti itu, aku yakin dia tau, tapi sepertinya dia memang sengaja.

“Ini gw jalan pelan kaya gini, sengaja nunggin elo, biasanya lo brangkat sekolah jam segini kan?”

“Serius Bi? Lo nungguin gw?” seru Dewi.

Entah reflek atau memang sengaja, dia nepuk bahuku, mungkin lebih tepatnya mukul karena kenceng banget, serius walaupun feminim tapi tenaga si Dewi lumayan kenceng, pasti gara-gara suka bantuin orang tuanya ngambil air bersih, disumber mata air yang jaraknya hampir lima belas menit jalan kaki dari rumahnya.

Sialnya, waktu itu aku gak siap menerima serangan mendadak, bahkan kuda-kuda ku aja lemah banget, hingga tubuhku terhuyung hilang keseimbangan, sialnya lagi, aku sedang berjalan di jalan setapak yang disamping kanan kirinya sawah, maka untuk menjaga keseimbangan, kaki dan tanganku berusaha meraih apapun yang bisa diraih.

Maka tak ada rotan, tangan si Dewipun jadi, tapi karena si Dewi juga sepertinya gak menduga akan hal itu, diapun malah ikut hilang keseimbangan, hingga akhirnya tak mampu dihindari lagi, aku jatuh telentang diatas lumpur, karena kebetulan sawahnya baru ditanami.

Sementara si Dewi tepat berada diatasku, beruntung jalanan itu memang sepi dan jarang dilewati, karena walaupun jalan itu merupakan jalan pintas, tapi medannya memang susah dilewati karena kabanyakan berupa pematang sawah.

Coba kalo adegan gak sengaja antara aku dan si Dewi itu ada yang liat, apalagi yang melihatnya Emak-Emak, pasti akan jadi tranding topik, di kampung Pasir Jeungjing.
“Aduh! Sory Bi” seru si dewi, yang betah berlama-lama diatasku.

“Argh, elo sih Dew, pake mukul segala!” umpatku, kesal campur deg-degan, karena badan si Dewi nempel banget.

“Lagian, jadi cowo lemah banget!” ledeknya.

“Yaudah, tapi sampe kapan mau gini terus!” balasku, dan berusaha berdiri.

“Eh, sory!” jawab si Dewi salah tingkah, diapun berdiri dan menjauh.

Yups, celana dan bajuku blepotan lumpur, tasku juga tak luput dari lumpur, mungkin salah satu yang membuat keseimbanganku  mudah hilang, gara-gara harus  gendong tas yang lumayan berat karena isinya perlengkapan kemping selama berbulan-bulan, serta bekel makan siang untuk satu kelurahan, hehehe.

Sementara si Dewi, bajunya bersih tanpa noda lumpur sedikitpun karena dia jatuh tepat diatasku, bukan diatas lumpur.

“Ini sih, alamat di omelin mamah!” umpatku sambil berusaha membersihkan tas yang belepotan lumpur.

“Sory banget Bi, gw gak maksud!” pinta Dewi, memelas, penuh penyesalan.

“Iya, mau gimana lagi, udah kejadian!” balasku, kesel campur seneng, gimana gitu rasanya.

Entahlah aku seneng karena apa, tapi kalau dipikir-pikir sih kejadian waktu itu romantis juga, mirip adegan klise disinetron indonesia, atau drama korea.

“Yaudah lo brangkat sekolah aja entar telat lagi, gw mau balik, ganti baju!”

“Tapi lo gak apa-apa kan ya Bi?” tanya si Dewi, seperti sedang menghawatirkan seorang pacar.

“Tenang aja sih, Jakarta mah deket, lagian kan gw tes kerja baru senin, gw sengaja berangkat sabtu, supaya bisa nyari alamat tes dulu besok!”

Setelah mendengar penjelasan dari ku, akhrinya si Dewi melanjutkan perjalanannya menuju Sekolah, sementara aku terpaksa balik lagi kerumah.

Sumpah sepanjang jalan aku risih, karena setiap berpapasan dengan orang lain, mereka pasti nanya, kenapa? Dari aman? Pertanyaan standar, namun wajar untuk diucapkan sebagai tanda kepedulian antar sesama mahluk tuhan, tantunya jika tidak dijadikan bahan pergunjingan, alias gosip.

“Loh? Kenapa Bi? Ko balik lagi?” tanya Ibu, kebingungan.

“Tadi keserempet kebo, jatoh deh kesawah!” jawabku, bohong.

“Kamu itu gimana sih, makanya hati-hati kalo jalan, baru mau berangkat udah balik lagi!” umpat Ibu, pedes banget kaya cabe ijo.

Wajar dong jika aku berbohong, karena gak mungkin aku cerita jatuh ke sawah gara-gara si Dewi, bisa berabe ujungnya entar. Maka bergegas aku masuk kekemar mandi, melepaskan pakian dan sudah berniat mencuci, namun Ibu melarang, malah menyuruhku langsung ganti baju dan berangkat ke Jakarta.

Segitu gak sabarannya, seolah Ibu memang ingin aku cepet-cepet pergi dari rumah, padahal kalau aku gak ada dirumah jelas Ibu akan sangat dirugikan, karena gak ada yang bisa Ibu suruh buat beli terasi atau mecin, hehehe.









No comments:

Post a Comment

Post Populer