Sepakbola adalah olahraga kesukaanku dari zaman masih ngompol, sampai bisa pipis ditoilet, dan olahraga ini jadi obat mujarab buat ngilangin stres
gara-gara masih nganggur, padahal sudah hampir dua bulan semenjak lulus sekolah.
Walaupun sepak bola
itu olahraga yang menyenangkan, tapi aku pernah punya pengalaman tidak menyenangkan tentang olahraga ini.
Kejadiannya beberapa tahun lalu, waktu itu aku masih sekolah menengah pertama
alias SMP, untuk menyambut hari
kemerdekaan Republik Indonesia yang seperti biasanya jatuh tepat pada tanggal 17 Agustus, dan gak pernah berubah, kampungku
mengadakan pertandingan sepak bola antar RT dengan hadiah seekor kambing jantan.
“Wah lumayan tuh, kalo jadi juara bisa dijadiin kambing guling” celetuk si
Yudi ngarep.
Peserta kompetisi itu, terbagi menjadi beberapa grup, yang mewakili tiap RT masing-masing, setiap RT bisa
diwakili oleh lebih dari satu grup, dan hanya beranggotakan maksimal tujuh orang setiap grup, mugkin zaman
sekarang namanya futsal karena pertandingannya hanya diwakili lima orang dari masing-masing
tim,
dan dua orang lagi sebagai cadangan.
Akibat kompetisi bola yang sebenarnya sederhana itu,
para pemuda kampung yang biasanya kompak nongkrong di pos
ronda jadi terbagi beberapa kubu, karena jelas kompetisi ini membagi kita
menjadi beberapa grup dan secara otomatis semua harus jadi musuh dilapangan, demi gengsi serta kebanggaan bagi RT masing-masing.
Begitupun aku, yang harus kehilangan si Yusup sama Yudi karena kita beda RT, padahal sebelum kompetisi di gelar kita baik-baik saja, seperti biasa nongkrong bareng, bobo bareng, makan
bareng, bahkan BAB juga bareng, hehehe.
Gak jelas siapa yang memulai permusuhan,
tapi semenjak kompetisi bergulir kita jadi jarang tegur
sapa,
dan pos ronda yang biasanya tiap malem gaduh sama anak-anak
yang pada nongkrong seketika menjadi sepi, aneh, padahal kompetisi digelar hanya untuk memeriahkan hari
kemerdekaan dan hadianya juga cuman seekor kambing, haruskah seekor kambing
merusak persaudaraan?
Mungkin salah satu penyebabnya, akibat dari permainan kasar dilapangan, maklumlah namanya
juga di Kampung mereka yang gak tau “cara bermain” lebih mengandalkan otot dari pada tehnik, tak jarang ada yang cidera gara-gara permainan kasar, belum lagi Ibu-Ibu yang manas-manasin, apalagi kalo salah satu dari anggota keluarganya terluka
gara-gara permainan keras, pokoknya lengkap deh membuat suasana kampung jadi gak harmonis.
Bahkan terdengar kabar, ada yang memakai jasa paranormal untuk memenangi pertandingan, bushet dah, kalo hadiahnya ratusan juta sih wajar aja kali, tapi saking gak mau kalah, timku pun ikut – ikutan aneh.
Masa! sebelum pertandingan, aku disuruh minum air putih yang sudah dibacakan mantra, dan harus di usapkan kewajah sebanyak tiga kali, plus sebelum turun kelapangan, aku dan teman-teman harus komat-kamit dulu baca mantra.
“Repooo….t!”
“Mau main bola? atau adu ilmu kanuragan sih?” umpat ku dalam hati.
Kampungku jadi bener-bener aneh, parahnya aku pernah nyium bau kemenyan dilapangan.
“TER.. LA… LU...” kata bang haji sambil geleng-geleng kepala.
Masih untung, gak ada yang nyembelih ayam hitam,
horor banget kalau sampai ada.
Semakin hari, pertandingan semakin seru, sekaligus panas, dan rasanya persaudaraan yang selama ini terjalin baik
mulai renggang, itu terbukti dengan saling ledek dan cemooh antara suporter.
Apalagi superternya Ibu-Ibu, puncaknya pertandingan final yang mempertemukan timku melawan tim yang dibela si Yusuf dan si Yudi, padahal mereka orang yang paling deket dengan ku di kampung, sebenarnya kita juga masih sodara sih,
untuk meredam ketegangan yang terjadi aku sempet mengajak salaman tim lawan, sebelum pertandingan dimulai,
berhasil?
Sama sekali gak ngaruh, karena saat si Yusuf ngegolin dia membuat selebrasi yang bener-bener ngeledek
banget, yaitu dengan sadar dia nungging kearah timku sambil melorotin kolornya,
plus goyang-goyang, ngledek banget kan? Aku yang biasa bercanda dengannya saja
langsung mendidih melihatnya,
tapi kita masih bisa bersabar
dan melanjutkan pertandingan, walaupun semakin kasar.
Saat tim ku berhasil membalas gol, si Sandi berselebrasi lebih nyeleneh dari si Yusup, dengan gaya tengil dia
mengacungkan jari tengahnya kearah tim lawan, tentu saja hal itu akan sangat berhasil memancing emosi tim lawan, sampai akhirnya salah
seorang dari tim lawan yang emosinya terpancing langsung mukul si Sandi
yang tadi berselebrasi, otomatis tim ku gak terima dong dan gak tinggal
diam, maka kami langsung
membalas.
Akhirnya, aksi kejar mengejar dan pukul memukulpun gak bisa dihindari, Ibu-Ibu pada teriak, Anak-Anak yang nonton, bersorak sorai kegirangan, mungkin
mereka pikir sedang melihat barongsay atau kuda lumping, sementara aku terlibat perkelahian dengan teman dan sodara sendiri.
Aksi itu baru
terhenti, setelah sesepuh kampung
datang dan melerai perkelahian, lalu dia mengumpulkan RT dan semua pihak yang bertanggung jawab atas pertandingan
tersebut.
“Anjrit...!” muka yang tadinya guanteng jadi babak belur, begitupun tangan keseleo, gara-gara mukul si Sukri yang badannya segede Buto Ijo.
Ternyata begitulah potret persepakbolaan di kampungku,
pantes aja gak pernah berkembang doyannya berantem mulu,
akhirnya dengan alasan keamanan pertandingan dibubarkan dan si kambing yang sudah
mejeng dipinggir lapang, masuk kandang lagi sambil senyum-senyum.
“Embeeee…,
Embeeeee….” kata si kambing, terlihat begitu senang, mungkin jika diartikan
kedalam bahas manusia, begini.
“Selamet…, Selamet.”
Kata si kambing.
No comments:
Post a Comment