Tuesday, April 9, 2019

Part 14 : Jakarta (Tamat)



“Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang, beri hamba uang, beri hamba uang!”

Teriak dua orang lelaki kekar bertato, diiringi suara gitar yang tak kalah lantang. Didalam sebuah bis jurusan Sukabumi – Kalideres, yang baru sampai di Daerah Grogol Jakarta Barat.

Pemandangan seperti itu, memang sudah gak aneh lagi di Jakarta, oleh karena itu aku udah nyiapin duit receh gopean, supaya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sudah bukan rahasia lagi, jika orang-orang seperti mereka bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang mereka mau, bahkan sekedar uang recehan. Malah aku pernah diplototin cuman gara-gara gak ngasih, bukan karena gak ada duit, tapi kebetulan aja gak ada receh, hehehe.

Pengamen di Jakarta memang berbeda seratus delapan puluh derajat dari pengamen Sukabumi, aku bisa berpendapat seperti itu karena sering mengamati mereka tentunya. 

Apalagi pengamen Sukabumi, karena selama tiga tahun aku menimba ilmu di STM, pasti ketemu sama pengamen, karena untuk ke Sekolah aku biasa naik bis, bahkan salah satu dari pengamen itu, ada yang aku kenal deket karena hampir tiap hari ketemu di bis.

Pertama, mari kita bandingkan dari cara mereka berpakaian, para pengamen di Jakarta cendrung berpakaian slengean, dekil, pokonya gak rapih deh, atau mungkin sengaja dibuat acak-acakan supaya terlihat seram. Bandingkan dengan pengamen di Sukabumi, yang kebanyakan rapi, bahkan modis menurutku.

Kedua, pengamen di Jakarta itu terkesan kasar bahkan sering mengintimidasi para pengguna angkutan umum, dengan kata-kata atau tatapan tajam yang menyeramkan. Beda dengan pengamen Sukabumi yang lebih sopan, dan gak pernah marah, apalagi memaksa, jika ada penumpang yang gak ngasih.

Pengamen sih bukan masalah besar untukku, apalagi jika mereka benar-benar bernyanyi dan mengeluarkan segenap kemampuan yang dimiliki, aku ikhlas deh ngasih lebih dari gope, hehehe.
 Nah di Jakarta itu, kadang ada orang yang tiba-tiba naik bis, ngaku-ngaku baru keluar dari penjara, terus minta duit sama penumpang, kan ngaco, alasannya supaya dia tidak kembali bertindak kriminal, Ibu Kota memang seribu cerita.

Ngomongin pengamen, akhirnya sampai juga aku ditempat tujuan, yaitu daerah Cengkareng masih di Jakarta barat. Seturunnya dari bis, aku langsung disambut aroma kali hitam Jakarta yang begitu khas, dan selalu melekat dalam ingatan.

Miris memang, sepanjang jalan dari Cawang, sampai Grogol, mataku dimanjakan oleh pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menakjubkan, tapi setelah memasuki daerah Cengkareng, apalagi masuk ke wilayah Pesaki, yang ku lihat hanya kali hitam dan perkampungan padat penduduk, dimana sebagian besar para perantau, dan warga asli tinggal disana.

Maka rasanya gak salah, jika aku mengambil kesimpulan bahwa, segala kemewahan dan kemegahan Jakarta hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berduit saja, sementara yang lainnya hanya bisa tinggal dipinggiran, sambil menatap gedung-gedung tinggi itu dari jauh, setidaknya itu yang aku rasakan selama di Jakarta, hehehe.

Ok, kita kembali ke jalan yang benar, hari minggu sesuai rencana, aku minta tolong Uwa untuk menjadi pemandu jalan, mencari lokasi dimana tes akan diadakan, dan memang Uwa bisa aku andalkan, tak butuh waktu lama, apalagi harus muter-muter, lokasi itu bisa dengan mudah ditemukan.
Selain itu, Uwa memberikan rute terbaik untuk menuju tempat tersebut, dan menyarankan supaya aku naik bis transjakarta, agar lebih aman, karena jika menggunakan transportasi lain lebih rawan akan tindakan kejahatan.

Selesai mencari alamat, Uwa mengajakku makan disebuah restoran, dengan desain bangunan yang unik, yang mengingatkan ku kepada salah satu rumah adat suatu daerah. 

Saat itu aku makan daging kecil tapi bumbunya sumpah enak banget, ditambah prekedel yang rasanya lain dari yang pernah ku makan, dan semenjak saat itu, makanan itu jadi menu terfavorit ku, hehehe.

Akhirnya hari yang dinantipun tiba, hari dimana aku akan membuktikan kemampuan sebagai salah satu lulusan cukup baik, disalah satu sekolah kejuruan terfavorit, kenapa cukup baik? Simpel saja, karena bukan aku yang terbaik, hehehe.

Maka setelah bersalaman dan meminta restu dari Bapak, aku berangkat menuju tempat tes dengan semangat yang berapi-api, bahkan saking semangatnya aku berangakat selepas shalat subuh, bahkan loket bis transjakarta saja belum buka.

Setibanya di tempat tujuan, awalnya aku pikir akan jadi yang paling pertama datang, tapi ternyata sudah ada yang datang lebih dulu dariku, malah mereka sudah tiba dari kemarin malam, karena mereka berasal dari luar kota, bahkan luar pulau, sungguh sangat luar biasa perjuangan mereka, kalau dibanding dengan perjuangan ku sih rasanya gak ada apa-apanya.

Semakin siang tempat itu semakin ramai, saat melihat di papan pengumuman, ternyata yang ikut tes dihari itu lebih dari seratus orang, gila nyali ku seketika ciut bro. Bayangkan saja aku harus bersaing dengan lebih dari seratus orang manusia, yang berasal dari  berbagai daerah, rupanya perusahaan yang aku lamar, mempunyai magnet yang luar biasa hingga orang dari berbagai daerah saja tertarik.

Tes pertama, yang merupaka psikotes bisa aku lewati dengan baik, dan aku berhasil lulus, ternyata yang lulus kurang dari setengahnya dari peserta yang ikut berpartisipasi, tes kedua adalah kesehatan, itupun aku lolos, orang sehari-harinya maen di kebon  atau sawah mana mungkin gagal tes kesehatan, hehehe.

Hari selanjutnya, adalah pelatihan kerja, yang diadakan selama tiga hari, pelatihan itu dilaksanakan dalam ruangan kosong, mungkin sebuah kelas, hanya saja ditempat itu tidak ada kursi atau meja, dan selama pelatihan berlangsung kami hanya bisa berdiri seharian, sambil diberikan berbagai macam arahan, yang kabanyakan merupakan sebuah simulasi, dari pekerjaan yang akan kami hadapi.

Selesai pelatihan kerja, ternyata masih ada pelatihan-pelatihan lain dari mulai baris berbaris, sampai pelatihan menangani kebakaran, intinya semua pelatihan itu memakan waktu kurang lebih satu minggu, luar biasa bukan.

Semua pelatihan itu berhasil aku selesaikan, hingga akhirnya ditutup dengan tes kesehatan tahap kedua, selang hari berikutnya inter view dengan HRD, sekaligus pembagian seragam, serta penempatan, dan ternyata aku ditempatkan di daerah Cikarang Jawa Barat, dan saat itu total yang lolos kurang lebih dua puluh orang dari ratusan orang yang ikutan tes, sungguh ketat sekali seleksinya.

Bushet, baru tes saja sudah segitu ketatnya gimana nanti kerja? Awalanya memang aku sempat was-was membayangkan dunia kerja sebenarnya seperti apa, maklumlah aku kan masih fresh from the oven kalau ibarat roti, atau masih hijau jika diibaratkan daun, alias belum punya pengalaman sama sekali di dunia kerja.

Seminggu sudah aku terjun ke dunia kerja yang sebenarnya, dan ternyata dunia kerja itu tidak sesulit yang aku bayangakan, karena kerjaanku ternyata cukup gampang walaupun melelahkan, bahkan saking gampangnya keterampilan yang aku pelajari selama tiga tahun di Sekolah, gak terpakai sama sekali. 

Yups, tentunya aku selalu bersyukur dengan apa yang sudah berhasil ku capai, dan pastinya perjalanan hidup ku belum berakhir, hanya saja masa-masa sebagai pengangguran berakhir sudah.

Menjadi pengangguran memang kadang menyebalkan, sekaligus menyedihkan, tapi beruntung selama aku berstatus pejabat alias “Pengangguran Jawa Barat” ada teman-teman yang selalu menemani, walaupun tak jarang mereka bertingkah konyol, aneh, bahkan ngeselin, tapi aku anggap itu sebagai bumbu penyedap dalama hidup.

Selain itu, aku menemukan sebuah pengakuan perasaan, dari seseorang yang selama ini terabaikan, seseorang yang sangat dekat namun tak terlihat, seseorang yang menawarkan segudang cinta, namun sayang, hatiku tak mampu menampungnya.

Gara-gara nganggur aku belajar satu hal, bahwa manusia itu hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya kita hanya mampu menyerahkan kepada yang maha kuasa, kerena hanya kuasanyalah yang bisa menentukan semua usaha kita itu, berhasil atau tidak.

Maka tetaplah berpikir positif, walaupun terkadang kenyataan tidak sesuai harapan, dan tetap semangat!

“Woi orang kota! Sombong banget gak balik-balik!”

Aku menerima sebuah pesan singkat, dari nomor yang gak dikenal, tepat satu bulan aku diperantauan, tapi aku tau dengan pasti, siapa orang yang ngirim pesan itu.


TAMAT

No comments:

Post a Comment

Post Populer