“Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang, beri hamba uang, beri hamba uang!”
Teriak dua orang
lelaki kekar bertato, diiringi suara gitar yang tak kalah lantang. Didalam
sebuah bis jurusan Sukabumi – Kalideres, yang baru sampai di Daerah Grogol
Jakarta Barat.
Pemandangan seperti
itu, memang sudah gak aneh lagi di Jakarta, oleh karena itu aku udah nyiapin
duit receh gopean, supaya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sudah bukan rahasia
lagi, jika orang-orang seperti mereka bisa melakukan apapun untuk mendapatkan
apa yang mereka mau, bahkan sekedar uang recehan. Malah aku pernah diplototin
cuman gara-gara gak ngasih, bukan karena gak ada duit, tapi kebetulan aja gak
ada receh, hehehe.
Pengamen di Jakarta
memang berbeda seratus delapan puluh derajat dari pengamen Sukabumi, aku bisa
berpendapat seperti itu karena sering mengamati mereka tentunya.
Apalagi pengamen
Sukabumi, karena selama tiga tahun aku menimba ilmu di STM, pasti ketemu sama
pengamen, karena untuk ke Sekolah aku biasa naik bis, bahkan salah satu dari
pengamen itu, ada yang aku kenal deket karena hampir tiap hari ketemu di bis.
Pertama, mari kita
bandingkan dari cara mereka berpakaian, para pengamen di Jakarta cendrung
berpakaian slengean, dekil, pokonya gak rapih deh, atau mungkin sengaja dibuat
acak-acakan supaya terlihat seram. Bandingkan dengan pengamen di Sukabumi, yang
kebanyakan rapi, bahkan modis menurutku.
Kedua, pengamen di
Jakarta itu terkesan kasar bahkan sering mengintimidasi para pengguna angkutan
umum, dengan kata-kata atau tatapan tajam yang menyeramkan. Beda dengan
pengamen Sukabumi yang lebih sopan, dan gak pernah marah, apalagi memaksa, jika
ada penumpang yang gak ngasih.
Pengamen sih bukan
masalah besar untukku, apalagi jika mereka benar-benar bernyanyi dan
mengeluarkan segenap kemampuan yang dimiliki, aku ikhlas deh ngasih lebih dari
gope, hehehe.
Nah di Jakarta itu, kadang ada orang yang
tiba-tiba naik bis, ngaku-ngaku baru keluar dari penjara, terus minta duit sama
penumpang, kan ngaco, alasannya supaya dia tidak kembali bertindak kriminal,
Ibu Kota memang seribu cerita.
Ngomongin pengamen,
akhirnya sampai juga aku ditempat tujuan, yaitu daerah Cengkareng masih di
Jakarta barat. Seturunnya dari bis, aku langsung disambut aroma kali hitam
Jakarta yang begitu khas, dan selalu melekat dalam ingatan.
Miris memang,
sepanjang jalan dari Cawang, sampai Grogol, mataku dimanjakan oleh pemandangan
gedung-gedung pencakar langit yang menakjubkan, tapi setelah memasuki daerah
Cengkareng, apalagi masuk ke wilayah Pesaki, yang ku lihat hanya kali hitam dan
perkampungan padat penduduk, dimana sebagian besar para perantau, dan warga
asli tinggal disana.
Maka rasanya gak
salah, jika aku mengambil kesimpulan bahwa, segala kemewahan dan kemegahan Jakarta
hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berduit saja, sementara yang lainnya
hanya bisa tinggal dipinggiran, sambil menatap gedung-gedung tinggi itu dari
jauh, setidaknya itu yang aku rasakan selama di Jakarta, hehehe.
Ok, kita kembali ke
jalan yang benar, hari minggu sesuai rencana, aku minta tolong Uwa untuk
menjadi pemandu jalan, mencari lokasi dimana tes akan diadakan, dan memang Uwa
bisa aku andalkan, tak butuh waktu lama, apalagi harus muter-muter, lokasi itu
bisa dengan mudah ditemukan.
Selain itu, Uwa
memberikan rute terbaik untuk menuju tempat tersebut, dan menyarankan supaya
aku naik bis transjakarta, agar lebih aman, karena jika menggunakan
transportasi lain lebih rawan akan tindakan kejahatan.
Selesai mencari
alamat, Uwa mengajakku makan disebuah restoran, dengan desain bangunan yang
unik, yang mengingatkan ku kepada salah satu rumah adat suatu daerah.
Saat itu aku makan
daging kecil tapi bumbunya sumpah enak banget, ditambah prekedel yang rasanya
lain dari yang pernah ku makan, dan semenjak saat itu, makanan itu jadi menu
terfavorit ku, hehehe.
Akhirnya hari yang
dinantipun tiba, hari dimana aku akan membuktikan kemampuan sebagai salah satu
lulusan cukup baik, disalah satu sekolah kejuruan terfavorit, kenapa cukup
baik? Simpel saja, karena bukan aku yang terbaik, hehehe.
Maka setelah
bersalaman dan meminta restu dari Bapak, aku berangkat menuju tempat tes dengan
semangat yang berapi-api, bahkan saking semangatnya aku berangakat selepas
shalat subuh, bahkan loket bis transjakarta saja belum buka.
Setibanya di tempat
tujuan, awalnya aku pikir akan jadi yang paling pertama datang, tapi ternyata
sudah ada yang datang lebih dulu dariku, malah mereka sudah tiba dari kemarin
malam, karena mereka berasal dari luar kota, bahkan luar pulau, sungguh sangat
luar biasa perjuangan mereka, kalau dibanding dengan perjuangan ku sih rasanya
gak ada apa-apanya.
Semakin siang tempat
itu semakin ramai, saat melihat di papan pengumuman, ternyata yang ikut tes
dihari itu lebih dari seratus orang, gila nyali ku seketika ciut bro. Bayangkan
saja aku harus bersaing dengan lebih dari seratus orang manusia, yang berasal
dari berbagai daerah, rupanya perusahaan
yang aku lamar, mempunyai magnet yang luar biasa hingga orang dari berbagai
daerah saja tertarik.
Tes pertama, yang
merupaka psikotes bisa aku lewati dengan baik, dan aku berhasil lulus, ternyata
yang lulus kurang dari setengahnya dari peserta yang ikut berpartisipasi, tes kedua
adalah kesehatan, itupun aku lolos, orang sehari-harinya maen di kebon atau sawah mana mungkin gagal tes kesehatan,
hehehe.
Hari selanjutnya,
adalah pelatihan kerja, yang diadakan selama tiga hari, pelatihan itu
dilaksanakan dalam ruangan kosong, mungkin sebuah kelas, hanya saja ditempat
itu tidak ada kursi atau meja, dan selama pelatihan berlangsung kami hanya bisa
berdiri seharian, sambil diberikan berbagai macam arahan, yang kabanyakan
merupakan sebuah simulasi, dari pekerjaan yang akan kami hadapi.
Selesai pelatihan
kerja, ternyata masih ada pelatihan-pelatihan lain dari mulai baris berbaris,
sampai pelatihan menangani kebakaran, intinya semua pelatihan itu memakan waktu
kurang lebih satu minggu, luar biasa bukan.
Semua pelatihan itu
berhasil aku selesaikan, hingga akhirnya ditutup dengan tes kesehatan tahap
kedua, selang hari berikutnya inter view dengan HRD, sekaligus pembagian
seragam, serta penempatan, dan ternyata aku ditempatkan di daerah Cikarang Jawa
Barat, dan saat itu total yang lolos kurang lebih dua puluh orang dari ratusan
orang yang ikutan tes, sungguh ketat sekali seleksinya.
Bushet, baru tes saja
sudah segitu ketatnya gimana nanti kerja? Awalanya memang aku sempat was-was
membayangkan dunia kerja sebenarnya seperti apa, maklumlah aku kan masih fresh from the oven kalau ibarat roti,
atau masih hijau jika diibaratkan daun, alias belum punya pengalaman sama
sekali di dunia kerja.
Seminggu sudah aku
terjun ke dunia kerja yang sebenarnya, dan ternyata dunia kerja itu tidak
sesulit yang aku bayangakan, karena kerjaanku ternyata cukup gampang walaupun
melelahkan, bahkan saking gampangnya keterampilan yang aku pelajari selama tiga
tahun di Sekolah, gak terpakai sama sekali.
Yups, tentunya aku
selalu bersyukur dengan apa yang sudah berhasil ku capai, dan pastinya
perjalanan hidup ku belum berakhir, hanya saja masa-masa sebagai pengangguran
berakhir sudah.
Menjadi pengangguran
memang kadang menyebalkan, sekaligus menyedihkan, tapi beruntung selama aku
berstatus pejabat alias “Pengangguran Jawa Barat” ada teman-teman yang selalu
menemani, walaupun tak jarang mereka bertingkah konyol, aneh, bahkan ngeselin,
tapi aku anggap itu sebagai bumbu penyedap dalama hidup.
Selain itu, aku
menemukan sebuah pengakuan perasaan, dari seseorang yang selama ini terabaikan,
seseorang yang sangat dekat namun tak terlihat, seseorang yang menawarkan segudang
cinta, namun sayang, hatiku tak mampu menampungnya.
Gara-gara nganggur
aku belajar satu hal, bahwa manusia itu hanya bisa berusaha dan berdoa,
selebihnya kita hanya mampu menyerahkan kepada yang maha kuasa, kerena hanya
kuasanyalah yang bisa menentukan semua usaha kita itu, berhasil atau tidak.
Maka
tetaplah berpikir positif, walaupun terkadang kenyataan tidak sesuai harapan,
dan tetap semangat!
“Woi orang kota!
Sombong banget gak balik-balik!”
Aku menerima sebuah
pesan singkat, dari nomor yang gak dikenal, tepat satu bulan aku diperantauan,
tapi aku tau dengan pasti, siapa orang yang ngirim pesan itu.
TAMAT
No comments:
Post a Comment