Hari minggu yang
cerah, untuk pertamakalinya seumur hidup, aku gak merasa senang kedatangan hari
minggu, gimana mau senang setiap hari yang aku rasakan, seperti hari minggu,
lama-lama bosen juga, apalagi gak ada yang nemenin, karena teman-teman ku sudah
pada merantau, tinggal aku sendirian yang masih
saja nyungseb dikasur, sambil nunggu panggilan kerja.
Oiya, kira-kira hari
minggu yang mendatangi kita? atau memang kita sendiri yang mendatangi hari
minggu? Ada yang bisa jawab?
Tentunya, saat masih
sekolah kita pasti paling senang jika udah sampai dihari minggu, karena bisa
melepaskan diri dari rutinitas yang sangat melelahkan walaupun hanya sehari.
Bukan berarti
rutinitas di sekolah terlalu melelahkan
untukku, tapi perjalan dari rumah ke sekolah yang sangat menguras
tenaga, masalahnya karena aku tinggal di Perkampungan, hingga untuk sekolah
saja harus menempuh jarak ratusan meter, naik turun bukit, melewati pematang
sawah, menyebrangi sungai, dengan kondisi jalan yang masih tanah merah.
Alhasil jika musim
hujan tiba, anak-anak di kampungku, kompak berangkat sekolah tanpa alas kaki,
alias nyeker bahasa kita, baru deh saat mendekati jalan raya biasanya kita cuci
kaki, dengan menggunkan kreatifitas tingkat tinggi untuk mendapatkan air,
karena gak mungkin kita nyuci kaki tanpa air.
Dengan nyeker, bukan
berarti kita lebih sayang sama sepatu ketimbang kaki sendiri, tapi jika sepatu
dipakai dari rumah, entah jadi seperti apa tuh sepatu saat sampai di jalan
raya, karena kondisi medan yang dilalui itu berlumpur dan licin, malah jika
memaksakan memakai sepatu dari rumah, kemungkinan kepleset dan jatuh lebih
tinggi.
Waktu kelas satu SD,
aku sering sekali balik lagi kerumah sambil nangis, gara-gara jatuh pas
berangkat sekolah, jika sudah seperti itu, Ibu biasanya ngomel-ngomel,
beruntung ada kake yang selalu siap menggendongku sampe sekolah, hehehe.
Itu dulu, sekarang jalanan setapak di
Kampungku sudah full coran, hingga anak sekolah tak perlu lagi melepas sepatu
mereka saat musim hujan, bahkan jika orang tuanya punya motor bisa mengantar
anaknya ke sekolah pakai motor, karena jalan setapak itu sekarang sudah bisa dilalui
oleh kendaraan roda dua.
Semua itu bisa
tercipta, hasil dari perjuangan dan kerja keras segenap masyarakat, yang di
pelopori oleh Bapak sebagai ketua RW, walaupun diawal Bapak merintis, selalu
saja ada nada-nada sumbang dari sebagain warga yang meragukan impian Bapak yang
sangat sederhana, yaitu dia ingin menyediakan akses jalan yang nyaman untuk
anak-anak sekolah, supaya tidak merasakan apa yang aku rasakan dulu, itulah
ungkapan rasa sayang seorang ayah yang luar basa.
Itulah sekilas
perjuanganku, saat menimba ilmu dari SD, SMP, sampai STM, bahkan waktu STM
lebih parah, karena jarak tempuh dari rumah ke Sekolah hampir dua jam, aku
harus naik turun bukit, melewati petang sawah, menyebrangi sungai, naik angkot,
naik bis, naik angkot lagi, baru deh sampe di sekolah.
Coba deh bayangkan
sendiri, jika tidak bermental baja mah udah nyerah pasti hehehe, tapi gara-gara
perjalanan yang panjang dan melelahkan itu, begitu sampai di sekolah biasanya
aku tidur, apalagi kalo pas mata pelajaran matematika, di siang bolong pula,
udah deh aku pules, ahahahahaha.
Makanya setelah lulus
Sekolah, aku ingin sekali langsung dapet kerja, karena perjuangan semasa
sekolah yang begitu berat dan melelahkan pastinya akan jadi sia-sia, kalau saja
aku terus-terusan jadi pengangguran, tapi rupanya aku masih harus bersabar
karena kesempatan kerja itu belum juga datang, padahal aku udah ngeposin hampir
sepuluh lamaran kerja ke perusahaan yang berbeda pastinya, dodol saja kalo
perusahaannya sama.
Berhubung masih belum
punya kerjaan, maka rutinitas sehari-hari ku sama, guling-guling dikasur, maen
gitar sambil teriak-teriak karena kalo disebut nyanyi kebagusan, dan nongkrong
sama temen-temen, tapi karena anak-anak udah pada kerja, ya aku nongkrong sama
siapa?
Hari minggu itu,
untuk pertama kalinya aku mati gaya dirumah, guling-guling dikasur sudah, maen
gitar sambil teriak-teriak sudah, makan pasti sudah, tinggal mandi saja yang
belum hehehe.
Sumpah aku bingung
mau ngapain lagi, maka saking suntuknya aku jalan saja keluar dari rumah, gak
tau mau kemana, tapi ternyata langkah kaki menuntun ku ke kebun Bapak, tapi aku
gak tau mau ngapain.
Dari pada bengong
akhirnya aku manjat pohon jambu air, lumayan juga buat ngemil, lagi asik
gelantungan sambil makan buah jambu, tiba-tiba ada yang manggil.
“Eh, orang kota mau
dong jambunya!” Teriak seseorang dari bawah.
Aku sih hafal bener
siapa orang itu, karena hanya dia satu-satunya manusia dikampung yang
memanggilku dengan sebutan orang kota.
“Woi ngeliat apaan
lo!” teriak Dewi sambil nutupin bagian dadanya dengan kedua tangan.
Pohon jambu air yang
aku panjat memang berada persis dipinggir jalan tempat si Dewi berdiri, karena
posisi ku diatas pohon, maka saat nengok kebawah yah gimana gitu, bayangkan saja
sendiri.
“Lah, tadi kan lo
manggil?” jawabku sambil buru-buru mengalihkan pandangan kearah lain.
Ternyata si Dewi
tidak sendiri, karena dia bersama lima orang temannya yang semuanya cewe dan
baru pertama kali aku lihat, mungkin mereka temen sekolahnya.
“Iya, tapi matanya
itu loh di jaga!” bentak Dewi, tampak kesal.
“Yaelah Dew, namanya
juga laki!” jawabku ketus.
“Dasar Mesum! Yaudah
minta sini jambunya!” balasnya, anehnya gak terlihat marah sama sekali.
“Ada kantong kresek
ga? Biar gampang.” Tanya ku.
“Ada nih…!” seru
salah seorang temen si Dewi yang terlihat paling mungil dari yang lain, tapi
imut juga sih hehehe.
Maka si Dewi langsung
ngambil kantong kresek itu, lalu memberikannya padaku, yang masih diatas pohon,
dan saat itu terjadi lagi sebuah pemandangan yang pastinya diharapakan oleh
setiap lelaki, apalagi yang baru puber, maka jangan salahkan kedua bola mataku,
jika jadi lebih agresif, lagian si Dewi pake kaos ketat tapi belahan dadanya
rendah, jadi ya begitu deh hehehe.
“Woi… Matanya!”
teriak kelima temen si Dewi kompak.
Wajahku pasti mateng
tuh, apalagi si Dewi dan temen-temennya cekikikan kayanya puas banget ngetawain,
sue!
“Nih, cukup ya
segitu…!” Kataku, sambil ngasih satu kantong penuh jambu air.
“Ok, makasi ya Bi, eh
lo mau ikut ga?” seru Dewi, sambil ngedipin mata kearah teman-temannya, entah
maksudnya apa.
“Emang mau pada
kemana sih? Pake bawa alat perang segala!” tanya ku.
“Mau masak dong
dipinggir sungai, ikut ga?” jawab Dewi
Sebenarnya aku sudah bisa
menebak, mereka mau pada ngapain, karena gak jauh dari kebun Bapak memang ada sungai yang asyk dijadikan
tempat untuk masak, walaupun airnya sudah gak sejernih waktu aku masih SD.
“OK deh, gw ikut ya,
dari pada gw gelantungan sendiri di pohon jambu.” Jawab ku asal.
Entah karena omongan
ku yang lucu, atau wajahku yang aneh, temen-temen si Dewi senyum-senyum saja
meperhatikanku, tapi bodo amatlah emang aku pikirin.
“Ok, berhubung lo
satu-satunya Cowo disini jadi bawain ya!” seru salah satu temen si Dewi yang
terlihat paling maco.
“Sue, berat banget
nih, yang bener saja!” umpatku, kesal.
“Argh, lemah banget
sih jadi Cowo” seru si Dewi, lalu ngajak temen-temennya meninggalkan ku yang
bengong seolah tak percaya dibohongi berkali-kali oleh orang yang sama,
ditemani ember yang berisi beras, lauk pauk, dan peralatan dapur.
Assseeeemmmmm! Pantes
tuh cewe pada senyum-senyum, aku mau dikerjain ternyata.
“Orang kota! Lama
banget sih!” teriak si Dewi yang lagi asyk berenang.
Gila, aku kerepotan
sendiri bawain peralatan perang mereka, eh malah pada asyk main air, bodohnya
aku mau aja gitu dikerjain, padahal aku bisa aja langsung pulang kerumah, atau
gelantungan lagi dipohon jambu, sumpah kebodohanku hari itu baru terpikir
sekarang.
“Tolong….! Keram!”
teriak si Dewi sambil melambaikan tangan, memang waktu itu si Dewi berenang
terlalu jauh, dan setauku dia berada di tempat yang paling dalam, di sungai
itu.
Sementara
teman-temannya hanya main air saja di tempat yang dangkal, awalnya aku mengira
si Dewi bercanda atau mau ngerjain aku lagi, tapi…
”Too..Long..!” teriak
Dewi, dengan kepalanya sesekali timbul tenggelam.
“Woi Cowo! Malah
bengong tolongin!” seru temen-temen si Dewi.
“Gw ga bisa
berenang!” umpatku panik!
Suasana seketika jadi
tegang dan mencekam, aku bingung setengah mati, sementara ke lima Cewe yang
ngakunya temen si Dewi cuman bisa teriak dan menjerit manggil-manggil si Dewi,
membuatku semakin panik, maka tanpa pikir panjang aku langsung lari kearah si
Dewi, lalu menceburkan diri ke sungai, padahal jelas aku gak bisa berenang,
tapi saat itu aku hanya mengikuti instingku saja.
Setelah berada di
tengah sungai, baru aku sadar jika ternyata memang aku masih gak bisa berenang,
maka aku panik sendiri melakukan segala macam cara yang aku tau supaya bisa
ngambang, tapi semua usaha itu sia-sia karena tetap saja badan meluncur
kebawah, seperti batu yang dilempar ke sungai.
Anehnya kaki ku
begitu cepat menyentuh dasar sungai, dan ternyata memang sungai itu gak sedalam
seperti yang aku perkirakan, karena saat aku berdiri tegak kedalaman sungai itu
hanya sebatas dada orang dewasa, tepat saat itulah aku melihat senyuman dari
wajah orang yang beberapa detik yang lalu aku khawatirkan.
Terkahir aku maen air
di sungai itu, waktu SD kelas enam, dan saat itu aku hampir saja tenggelam,
beruntung ada si Sandi yang menyelamatkan, kebetulan dia jagonya kalo soal
berenang, semenjak saat itu aku gak pernah maen air di sungai lagi, dan karena
itu juga sampai sekarang aku gak bisa berenang.
Kebetulan si Dewi
berenang, tepat dimana beberapa tahun yang lalu aku hampir tenggelam di sungai
itu, makanya aku bisa nebak kalau tempat itu adalah bagian sungai yang paling
dalam, bodohnya aku gak memperhitungkan tinggi badanku yang bertambah.
“Soorrryy becanda..”
Seru Dewi, sambil tersenyum manis.
“Gak Lucu!” jawabku
ketus, dan beranjak pergi dari sungai.
“Gitu aja ngambek!”
seru dewi, seolah tanpa dosa.
“Maksud lo apa sih
Dew? Yang tadi itu sumpah gak lucu!” kataku, dengan nada naik lima oktaf.
Sontak suasana yang
awalnya riuh riang karena temen-temennya si Dewi pada puas tertawa, seketika
berubah jadi tegang, apalagi kalau bukan karena nada suaraku yang tiba-tiba
saja meninggi.
Jujur saja aku malu
saat itu, bukan hanya malu karena udah dikerjain Cewe, tapi juga malu karena ketahuan
gak bisa berenang, dan malu karena gak bisa menjadi penyelamat saat dibutuhkan,
karena itulah aku merasa lemah.
Maka untuk menutupi
semua itu aku marah, kemarahan yang sebenarnya aku tujukan pada diri sendiri,
namun kebetulan terlampiaskannya sama si Dewi.
“Maksud gw? Lo mau
tau maksud gw? Gw cuman pengen lo liat gw, lo perhatiin gw Robi!” balas Dewi
dengan nada suara tak kalah tinggi.
“Yang tadi itu emang
ga cukup buat elo!” kataku, nada suara naik lagi jadi enam oktaf.
“Dulu…! Lo kemana
aja?” balas Dewi.
Sumpah saat itu, aku masih
belum mengerti arah pembicaraan si Dewi kemana, tapi yang pasti, aku gak mau
berlama-lama ditempat itu.
“Arghh! Terserah lo
Dew!” kataku, dan beranjak pergi.
Tanpa menoleh
sedikitpun kearah si Dewi, apalagi teman-temannya, aku berjalan mantap, pulang
dengan perasaan yang kacau, antara kesal, marah, dan malu.
“Orang Kota! Gw
seneng lo perhatiin!” teriak si Dewi, saat aku semakin menjauh darinya.
Namun aku terus saja
berjalan, seolah teriakannya hanya suara angin lalu.
No comments:
Post a Comment