Friday, April 5, 2019

Part 9 : Mulai Bosan



Hari minggu yang cerah, untuk pertamakalinya seumur hidup, aku gak merasa senang kedatangan hari minggu, gimana mau senang setiap hari yang aku rasakan, seperti hari minggu, lama-lama bosen juga, apalagi gak ada yang nemenin, karena teman-teman ku sudah pada merantau, tinggal aku sendirian yang masih  saja nyungseb dikasur, sambil nunggu panggilan kerja.

Oiya, kira-kira hari minggu yang mendatangi kita? atau memang kita sendiri yang mendatangi hari minggu? Ada yang bisa jawab?

Tentunya, saat masih sekolah kita pasti paling senang jika udah sampai dihari minggu, karena bisa melepaskan diri dari rutinitas yang sangat melelahkan walaupun hanya sehari.

Bukan berarti rutinitas di sekolah terlalu melelahkan  untukku, tapi perjalan dari rumah ke sekolah yang sangat menguras tenaga, masalahnya karena aku tinggal di Perkampungan, hingga untuk sekolah saja harus menempuh jarak ratusan meter, naik turun bukit, melewati pematang sawah, menyebrangi sungai, dengan kondisi jalan yang masih tanah merah.

Alhasil jika musim hujan tiba, anak-anak di kampungku, kompak berangkat sekolah tanpa alas kaki, alias nyeker bahasa kita, baru deh saat mendekati jalan raya biasanya kita cuci kaki, dengan menggunkan kreatifitas tingkat tinggi untuk mendapatkan air, karena gak mungkin kita nyuci kaki tanpa air.

Dengan nyeker, bukan berarti kita lebih sayang sama sepatu ketimbang kaki sendiri, tapi jika sepatu dipakai dari rumah, entah jadi seperti apa tuh sepatu saat sampai di jalan raya, karena kondisi medan yang dilalui itu berlumpur dan licin, malah jika memaksakan memakai sepatu dari rumah, kemungkinan kepleset dan jatuh lebih tinggi.

Waktu kelas satu SD, aku sering sekali balik lagi kerumah sambil nangis, gara-gara jatuh pas berangkat sekolah, jika sudah seperti itu, Ibu biasanya ngomel-ngomel, beruntung ada kake yang selalu siap menggendongku sampe sekolah, hehehe.

 Itu dulu, sekarang jalanan setapak di Kampungku sudah full coran, hingga anak sekolah tak perlu lagi melepas sepatu mereka saat musim hujan, bahkan jika orang tuanya punya motor bisa mengantar anaknya ke sekolah pakai motor, karena jalan setapak itu sekarang sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.

Semua itu bisa tercipta, hasil dari perjuangan dan kerja keras segenap masyarakat, yang di pelopori oleh Bapak sebagai ketua RW, walaupun diawal Bapak merintis, selalu saja ada nada-nada sumbang dari sebagain warga yang meragukan impian Bapak yang sangat sederhana, yaitu dia ingin menyediakan akses jalan yang nyaman untuk anak-anak sekolah, supaya tidak merasakan apa yang aku rasakan dulu, itulah ungkapan rasa sayang seorang ayah yang luar basa.

Itulah sekilas perjuanganku, saat menimba ilmu dari SD, SMP, sampai STM, bahkan waktu STM lebih parah, karena jarak tempuh dari rumah ke Sekolah hampir dua jam, aku harus naik turun bukit, melewati petang sawah, menyebrangi sungai, naik angkot, naik bis, naik angkot lagi, baru deh sampe di sekolah.

Coba deh bayangkan sendiri, jika tidak bermental baja mah udah nyerah pasti hehehe, tapi gara-gara perjalanan yang panjang dan melelahkan itu, begitu sampai di sekolah biasanya aku tidur, apalagi kalo pas mata pelajaran matematika, di siang bolong pula, udah deh aku pules, ahahahahaha.

Makanya setelah lulus Sekolah, aku ingin sekali langsung dapet kerja, karena perjuangan semasa sekolah yang begitu berat dan melelahkan pastinya akan jadi sia-sia, kalau saja aku terus-terusan jadi pengangguran, tapi rupanya aku masih harus bersabar karena kesempatan kerja itu belum juga datang, padahal aku udah ngeposin hampir sepuluh lamaran kerja ke perusahaan yang berbeda pastinya, dodol saja kalo perusahaannya sama.

Berhubung masih belum punya kerjaan, maka rutinitas sehari-hari ku sama, guling-guling dikasur, maen gitar sambil teriak-teriak karena kalo disebut nyanyi kebagusan, dan nongkrong sama temen-temen, tapi karena anak-anak udah pada kerja, ya aku nongkrong sama siapa?

Hari minggu itu, untuk pertama kalinya aku mati gaya dirumah, guling-guling dikasur sudah, maen gitar sambil teriak-teriak sudah, makan pasti sudah, tinggal mandi saja yang belum hehehe. 

Sumpah aku bingung mau ngapain lagi, maka saking suntuknya aku jalan saja keluar dari rumah, gak tau mau kemana, tapi ternyata langkah kaki menuntun ku ke kebun Bapak, tapi aku gak tau mau ngapain.

Dari pada bengong akhirnya aku manjat pohon jambu air, lumayan juga buat ngemil, lagi asik gelantungan sambil makan buah jambu, tiba-tiba ada yang manggil.

“Eh, orang kota mau dong jambunya!” Teriak seseorang dari bawah.

Aku sih hafal bener siapa orang itu, karena hanya dia satu-satunya manusia dikampung yang memanggilku  dengan sebutan orang kota. 

“Woi ngeliat apaan lo!” teriak Dewi sambil nutupin bagian dadanya dengan kedua tangan.

Pohon jambu air yang aku panjat memang berada persis dipinggir jalan tempat si Dewi berdiri, karena posisi ku diatas pohon, maka saat nengok kebawah yah gimana gitu, bayangkan saja sendiri.

“Lah, tadi kan lo manggil?” jawabku sambil buru-buru mengalihkan pandangan kearah lain.
Ternyata si Dewi tidak sendiri, karena dia bersama lima orang temannya yang semuanya cewe dan baru pertama kali aku lihat, mungkin mereka temen sekolahnya.

“Iya, tapi matanya itu loh di jaga!” bentak Dewi, tampak kesal.

“Yaelah Dew, namanya juga laki!” jawabku ketus.

“Dasar Mesum! Yaudah minta sini jambunya!” balasnya, anehnya gak terlihat marah sama sekali.

“Ada kantong kresek ga? Biar gampang.” Tanya ku.

“Ada nih…!” seru salah seorang temen si Dewi yang terlihat paling mungil dari yang lain, tapi imut juga sih hehehe.

Maka si Dewi langsung ngambil kantong kresek itu, lalu memberikannya padaku, yang masih diatas pohon, dan saat itu terjadi lagi sebuah pemandangan yang pastinya diharapakan oleh setiap lelaki, apalagi yang baru puber, maka jangan salahkan kedua bola mataku, jika jadi lebih agresif, lagian si Dewi pake kaos ketat tapi belahan dadanya rendah, jadi ya begitu deh hehehe.

“Woi… Matanya!” teriak kelima temen si Dewi kompak.

Wajahku pasti mateng tuh, apalagi si Dewi dan temen-temennya cekikikan kayanya puas banget ngetawain, sue!

“Nih, cukup ya segitu…!” Kataku, sambil ngasih satu kantong penuh jambu air.

“Ok, makasi ya Bi, eh lo mau ikut ga?” seru Dewi, sambil ngedipin mata kearah teman-temannya, entah maksudnya apa.

“Emang mau pada kemana sih? Pake bawa alat perang segala!” tanya ku.

“Mau masak dong dipinggir sungai, ikut ga?” jawab Dewi

Sebenarnya aku sudah bisa menebak, mereka mau pada ngapain, karena gak jauh dari kebun  Bapak memang ada sungai yang asyk dijadikan tempat untuk masak, walaupun airnya sudah gak sejernih waktu aku masih SD.

“OK deh, gw ikut ya, dari pada gw gelantungan sendiri di pohon jambu.” Jawab ku asal.

Entah karena omongan ku yang lucu, atau wajahku yang aneh, temen-temen si Dewi senyum-senyum saja meperhatikanku, tapi bodo amatlah emang aku pikirin.

“Ok, berhubung lo satu-satunya Cowo disini jadi bawain ya!” seru salah satu temen si Dewi yang terlihat paling maco.

“Sue, berat banget nih, yang bener saja!” umpatku, kesal.

“Argh, lemah banget sih jadi Cowo” seru si Dewi, lalu ngajak temen-temennya meninggalkan ku yang bengong seolah tak percaya dibohongi berkali-kali oleh orang yang sama, ditemani ember yang berisi beras, lauk pauk, dan peralatan dapur.

Assseeeemmmmm! Pantes tuh cewe pada senyum-senyum, aku mau dikerjain ternyata.

“Orang kota! Lama banget sih!” teriak si Dewi yang lagi asyk berenang.

Gila, aku kerepotan sendiri bawain peralatan perang mereka, eh malah pada asyk main air, bodohnya aku mau aja gitu dikerjain, padahal aku bisa aja langsung pulang kerumah, atau gelantungan lagi dipohon jambu, sumpah kebodohanku hari itu baru terpikir sekarang.

“Tolong….! Keram!” teriak si Dewi sambil melambaikan tangan, memang waktu itu si Dewi berenang terlalu jauh, dan setauku dia berada di tempat yang paling dalam, di sungai itu.

Sementara teman-temannya hanya main air saja di tempat yang dangkal, awalnya aku mengira si Dewi bercanda atau mau ngerjain aku lagi, tapi…

”Too..Long..!” teriak Dewi, dengan kepalanya sesekali timbul tenggelam.

“Woi Cowo! Malah bengong tolongin!” seru temen-temen si Dewi.

“Gw ga bisa berenang!” umpatku panik!

Suasana seketika jadi tegang dan mencekam, aku bingung setengah mati, sementara ke lima Cewe yang ngakunya temen si Dewi cuman bisa teriak dan menjerit manggil-manggil si Dewi, membuatku semakin panik, maka tanpa pikir panjang aku langsung lari kearah si Dewi, lalu menceburkan diri ke sungai, padahal jelas aku gak bisa berenang, tapi saat itu aku hanya mengikuti instingku saja.

Setelah berada di tengah sungai, baru aku sadar jika ternyata memang aku masih gak bisa berenang, maka aku panik sendiri melakukan segala macam cara yang aku tau supaya bisa ngambang, tapi semua usaha itu sia-sia karena tetap saja badan meluncur kebawah, seperti batu yang dilempar ke sungai.

Anehnya kaki ku begitu cepat menyentuh dasar sungai, dan ternyata memang sungai itu gak sedalam seperti yang aku perkirakan, karena saat aku berdiri tegak kedalaman sungai itu hanya sebatas dada orang dewasa, tepat saat itulah aku melihat senyuman dari wajah orang yang beberapa detik yang lalu aku khawatirkan.

Terkahir aku maen air di sungai itu, waktu SD kelas enam, dan saat itu aku hampir saja tenggelam, beruntung ada si Sandi yang menyelamatkan, kebetulan dia jagonya kalo soal berenang, semenjak saat itu aku gak pernah maen air di sungai lagi, dan karena itu juga sampai sekarang aku gak bisa berenang.

Kebetulan si Dewi berenang, tepat dimana beberapa tahun yang lalu aku hampir tenggelam di sungai itu, makanya aku bisa nebak kalau tempat itu adalah bagian sungai yang paling dalam, bodohnya aku gak memperhitungkan tinggi badanku yang bertambah.

“Soorrryy becanda..” Seru Dewi, sambil tersenyum manis.

“Gak Lucu!” jawabku ketus, dan beranjak pergi dari sungai.

“Gitu aja ngambek!” seru dewi, seolah tanpa dosa.

“Maksud lo apa sih Dew? Yang tadi itu sumpah gak lucu!” kataku, dengan nada naik lima oktaf.

Sontak suasana yang awalnya riuh riang karena temen-temennya si Dewi pada puas tertawa, seketika berubah jadi tegang, apalagi kalau bukan karena nada suaraku yang tiba-tiba saja meninggi.

Jujur saja aku malu saat itu, bukan hanya malu karena udah dikerjain Cewe, tapi juga malu karena ketahuan gak bisa berenang, dan malu karena gak bisa menjadi penyelamat saat dibutuhkan, karena itulah aku merasa lemah.

Maka untuk menutupi semua itu aku marah, kemarahan yang sebenarnya aku tujukan pada diri sendiri, namun kebetulan terlampiaskannya sama si Dewi.

“Maksud gw? Lo mau tau maksud gw? Gw cuman pengen lo liat gw, lo perhatiin gw Robi!” balas Dewi dengan nada suara tak kalah tinggi.

“Yang tadi itu emang ga cukup buat elo!” kataku, nada suara naik lagi jadi enam oktaf.

“Dulu…! Lo kemana aja?” balas Dewi.

Sumpah saat itu, aku masih belum mengerti arah pembicaraan si Dewi kemana, tapi yang pasti, aku gak mau berlama-lama ditempat itu.

“Arghh! Terserah lo Dew!” kataku, dan beranjak pergi.

Tanpa menoleh sedikitpun kearah si Dewi, apalagi teman-temannya, aku berjalan mantap, pulang dengan perasaan yang kacau, antara kesal, marah, dan malu.

“Orang Kota! Gw seneng lo perhatiin!” teriak si Dewi, saat aku semakin menjauh darinya.

Namun aku terus saja berjalan, seolah teriakannya hanya suara angin lalu.


No comments:

Post a Comment

Post Populer