Thursday, April 4, 2019

Part 8 : Si Sableng Sandi



“Hawa tercipta di dunia, untuk menemani sang Adam, begitu juga dirimu, tercipta tuk temani Aku.”

Di iringi suara petikan gitar yang gak merdu-merdu amat, aku sama si sandi teriak-teriak diatas genteng rumah, dimalam minggu yang kelabu, kebetulan genteng rumah orang tuaku bagian depannya di dak, atau apalah namanya, yang jelas enak banget buat nongkrong.

Sudah hampir satu minggu, kampung Pasir Jeungjing terasa begitu sepi, karena beberapa teman sudah mulai merantau ke kota, mencari peruntungannya masing-masing, termasuk si Yudi dan Yusuf yang merantau ke Jakarta ikut kerja dengan sodaranya di pabrik tekstil, otomatis tinggal si Sandilah satu-satunya teman yang masih tersisa.

Dengan berkurangnya personil, maka pos ronda yang biasanya selalu ramai, bahkan gaduh menjadi begitu sepi tanpa penghuni, lagian siapa juga yang mau berduaan di pos ronda bareng si Sandi, kalau sampai di gosipin sama Emak-Emak kan berabe jadinya.

Para pemuda di kampungku, memang kebanyakan merantau ke kota-kota besar setelah selesai sekolah, karena nyari kerja di Sukabumi itu susahnya minta ampun, sudah seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kebanyakan dari kamipun hanya tamatan SMA atau STM, gak ada yang langsung kuliah, jikapun ada yang kuliah itupun sambil kerja.

Beneran deh, lapangan kerja di Sukabumi itu, diskriminasi terhadap kaum lelaki, karena kebanyakan yang diterima itu pasti perempuan, contohnya aku sudah berkali-kali melamar, langsung di tolak di pintu gerbang, padahal ngasih lamaran saja belum, maka satu-satunya cara supaya bisa dapat kerjaan aku pun harus keluar dari Sukabumi, entah kemana aku masih belum tau, karena usaha ku baru sampai ngeposin lamaran kerja ke Kota-Kota besar, lalu duduk santai deh, nunggu panggilan.

Itulah sedikit luapan kekesalan ku, yang gagal dapat kerjaan di kampung halaman, jujur saja aku tuh ingin sekali kerja di Sukabumi, alasannya pertama, dekat dengan orang tua pastinya, maklumlah aku anak mamah, jadi susah jauh-jauh dari Ibu, saking anak mamahnya aku menolak saat ada tawaran magang ke Jepang dari sekolah, karena gak tau kenapa waktu mau ngisi formulir aku ingat ibu terus, hehehe.

Kedua, aku gak bisa berpaling dari cewe-cewe Sukabumi yang manis dan cantik, makanya aku sudah memilih calon istri ku dimasa depan itu, cewe Sukabumi asli, tetanggaan malah, tapi gadis itu masih dalam radar incaran, karena ibarat buah dia masih belum matang hehehe, itu saking cintanya aku sama kampung halaman, tapi sayang susah untuk sekedar mengais rezeki di kampung sendiri, apalagi keahlian ku terbatas, ahahahaha.

Oke, kembali ke cerita, sebenarnya aksi ku dengan si Sandi diatas genteng itu, hanya untuk mencari perhatian si Dewi, bunga desa yang menjadi tambatan hatinya si Sandi, karena seperti yang sudah ku jelaskan dicerita sebelumnya, rumah ku dan rumah si Dewi berdekatan.

“Bro udahlah, si Dewi lagi pacaran kali.” Kataku, menyerah karena si Dewi tak kunjung keluar dari rumahnya.

“Pacaran sama siapa? Dia kan jomblo!” jawab si Sandi, optimis.

“Wah, jangan-jangan dia sengaja gak keluar, karena takut denger suara elo!” 

“Sue, yang ada suara elo tuh fals, kaya suara kaleng kerupuk jatoh!” sewot si Sandi, gak terima suaranya ku ledek.

“Hawa tercipta di dunia, untuk menemani sang Adam, begitu juga dirimu, tercipta tuk temani Aku.”

Si Sandi kembali bernyanyi pantang menyerah, mungkin semangatnya sudah seperti para pejuang yang ingin merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, alhasil suaranya lebih keras dari sebelumnya.

“Bi! ngapain sih diatas? turun! TV jadi jelek gambarnya!”

Terdengar teriakan Ibu dari bawah, yang spontan menghentikan konser solo si Sandi.

Bushet! Awalnya aku mikir keras, apa hubungannya gambar TV yang jelek sama aku di suruh berhenti nyanyi dan turun dari atas genteng.

“Mah, udah bagus gambarnya!” Terdengar suara adikku si Ridwan, teriak dari dalam rumah.

“Tuh kan bagus lagi gambarnya, makanya jangan berisik udah pada turun!” seru Ibu, dan diapun kembali masuk kedalam rumah.

Maklumlah namanya juga dikampung, kalo saluran TV gambarnya pengen bagus, harus pake anten dan tinggi tiangnya harus lebih dari lima belas meter, kalo kurang dari lima belas meter dijamin hanya bisa melihat gambar semut sedang pawai, dan kebetulan saat itu parabola masih jadi barang mewah untuk keluargaku, dan warga kampung pada umunya.

Klo gambar tiba-tiba jelek, biasanya tiangnya diputer-puter sampai gambarnya kembali bagus, dan biasanya yang bikin gambar jelek itu, kalau tiupan angin kenceng banget, hingga bisa membuat tiang anten berputar, tapi malam itu suatu keajaiban terjadi, karena gambar saluran TV jadi jelek bukan karena tiupan angin, tapi gara-gara suara sumbang si Sandi, hehehe.

“Gila lo bro, suara lo bisa bikin kacau Frekuensi Aahahahaa.” ledek ku, puas banget.

“Sue, lo!” umpat si Sandi, sambil beranjak turun dari genteng melalui jalan satu-satunya yang bisa dilalui, yaitu pohon jambu yang batangnya merambat sampai ke genteng rumah.

“Bi, buruan turun!” seru si Sandi, dia terlihat panik dan terburu-buru turun dari pohon jambu.

“Woi! Cumi, gitarnya tangkap dulu nih!” teriak ku.

Namun tak ada jawaban dari si Sandi, dia malah langsung lari masuk kerumah, saat itulah tanpa sengaja aku menoleh kearah pohon rambutan besar yang tak jauh dari rumah, dan seketika sekujur tubuhku merinding, karena melihat sesuatu yang tak lazim dan tak pernah ku lihat sebelumnya.

Saking takutnya aku nyaris loncat dari atas genteng, untung akal sehat ku masih berperan aktif, dan memberikan instruksi pada seluruh tubuh untuk turun dari atas genteng, dengan cara yang sewajar dan seaman mungkin, hingga akhirnya aku bisa turun dengan selamat dan langsung masuk kedalam rumah.

“Kenapa Bi? Kaya abis ngeliat setan? Tadi si Sandi juga gitu!” tanya Ibu santai, dengan pandanganya yang tetap fokus ke layar Televisi, seolah tak mau ketinggalan tontonannya.

“Eeeemang iiiiyaaa…” jawab ku terbat-bata, karena auto gagap langsung aktif.

“Dimana kak liatnya?” tanya si Ridwan, penasaran.

“Di pppohon rambutan” jawab ku.

“Lah baru tau? Disitu emang udah banyak cerita.” jawab si Ridwan, tak kalah santai dari Nyokap, seolah semua itu bukan kejadian yang patut dihebohkan, sue!

Si Cumi Sandi, lagi enak saja molor dikamar ku, tapi gak yakin juga sih kalo dia molor, siapa tau pingsan tapi kepulesan hehehehe, dan gitar ku pasti tergolek tak berdaya diatas genteng karena tak bisa aku selamatkan, mudah-mudahan gak sampai dimaenin si teteh kunti, hiiiiiii.
 
“San, Sandi…, maen yuck!” aku teriak-teriak didepan rumah si Sandi, seperti anak TK ngajak maen temenya.

Dua hari setelah kejadian tak terduga dirumah ku, si Sandi gak ada nongolin batang hidungnya, padahal biasanya dia gak pernah absen ke rumah ku, karena di rumah ku, dia bisa makan siang, ngemil jambu, maen gitar dan teriak-teriak sesuka hatinya.

Apa mungkin dia trauma dan jadi takut kerumah? Rasanya gak selebai itu deh, maka untuk memastikan, siang itu aku kerumah si Sandi tanpa mandi, apalagi gosok gigi.

“Eh, Robi, si Sandikan kemaren sore ke Bekasi, ikut kerja sama Omnya!” seru Bu Eti, Ibunya si Sandi.

“Ow gitu ya Bu, kirain ada di rumah, makasi ya Bu.” Jawab ku.

Setelah mendapatakan penjelasan dari Ibunya si Sandi, maka tak ada pilihan bagiku selain balik kanan kembali kerumah. Maka semakin meranalah hatiku, karena dengan perginya si Sandi merantau ke Bekasi, maka tinggal aku satu-satunya lulusan STM tahun 2006 yang belum dapet kerjaan, padahal di kampung Pasir Jeungjiing hanya aku satu-satunya manusia yang sekolah di STM favorit yang ada di Kota Sukabumi, eh malah aku yang belum dapet kerja, sueeeee.

“Woi Cumi, sombong lo, pergi gitu aja, kaya maling ayam!” terkirim sebuah pesan singkat yang aku tujukan untuk si Sandi, namun lama ku tunggu, tak kunjung ada balasan.

“Nguuuk! Nguuuuk! Nguuuuk!” kira-kira jam sepuluh malam HP ku bunyi, dan ternyata panggilan dari si Sandi.

“Hallo,Cumi..!” sapa si Sandi diujung telpon.

“Argh, ngapain lo mau molor nih gw” jawabku ketus.

“Halah! gitu aja ngambek, sory Bro kemaren gw buru-buru, kebetulan hp gak ada pulsanya, baru ngisi” jelasnya tanpa ku minta.

“Lah, siapa yang ngembek, males banget gw musti ngambek sama elo buang-buang emosi.” Jawabku asal.

“Terus si Dewi gimana nih? Buat gw aja apa?” kataku, niatnya sih bercanda, menggoda dia saja.

“Sementara jangan sebut-sebut nama dia ya bro, masih sakit hati gw.” Seru si Sandi, dengan intonasi suara yang langsung berubah.

Tentu saja, mendengar jawaban dan intonasi suaranya yang langsung berubah, aku langsung nebak pasti ada sesuatu yang terjadi dengan si Sandi.

“Kenapa? Lo nembak si Dewi, terus di tolak? Itu mah kan wajar.” tanyak ku, sok tau, sekaligus meledek.

“Kalo cuman di tolak mah gak masalah bro, dia ngehina gw, bilang gw kampungan lah, orang susah lah, sue, emang dia pikir, dia siapa?” kata si Sandi, langsung serius.

“Bushet! Serius?” aku setengah gak percaya, walaupun memang aku sudah nebak, si Sandi bakal ditolak kalau nembak si Dewi, tapi aku gak pernah menyangka si Dewi bisa sekejam itu.

“Iya! Ngapain gw boong.”

“Jadi, gara-gara itu, lo kabur ke Bekasi?”

“Yah… Mungkin ya Bro, taulah yang penting gw ga liat muka tuh orang aja dulu!”

“Oiya, bukannya lo males kerja sama Om lo?”

“Gw coba dulu aja kali Bi, dari pada dikampung mulu!”

“Sue, nyindir gw nih?” 

“Baguslah kalo sadar mah ahahahaaha” seru si Sandi, dengan tawa yang terkesan dipaksakan, mungkin luka yang dibuat si Dewi teramat dalam, hingga sahabatku itu kehilangan kekonyolannya.

“Eh Cumi, katanya si Dewi mau lu santet?” aku sengaja melontakan pertanyaan konyol, untuk memancingnya supaya kembali seperti biasa.

“Gw gak selemah itu kali, bentar-bentar santet, lagian apa serunya ngedapetin cewe dengan cara di santen?” jawabnya tegas.

“Tumben lo bener, eh kapan sih lo nembak si Dewi penasaran gw?”

“Argh, Elo kaya infotaimen aja, nanya mulu!”

“Brisik nih, tinggal jawab aja, beres!”

“Itu loh pas hari minggu, pulang dari rumah Lo gak sengaja gw sejalan sama si Dewi, dia mau nyuci kayanya, terus gw ajak ngobrol bentar di deket kebun singkong, nah disitu gw nembak dia.”
“Gila…, Lo niat ga sih? pulang dari rumah gw kan lo kaga mandi Cumi, bau jigong, dekil, mana ada cewe yang mau!”

“Nah disitu seninya, kalo tuh cewe beneran suka sama gw mah, pasti dia terima apa adanya.”

“Iya kalo cewenya suka, kalo engga, ya begitu tuh persis sama yang lo alamin, dasar kaleng krupuk!”

“Brisik lo pengangguran, udahlah gw mau molor, besok kerja!”

“Sombong lo, mentang-mentang udah kerja!”

“Tuuuut, Tuuuut, Tuuuut”

Suara panggilan terputus, gara-gara si cumi maen putus aja. 

Dasar si Sandi sableng, mana ada cewe yang mau nerima, kalau ditembak dalam kondisi seperti itu, tapi si Dewi juga berlebihan, kalau sampe merendahakan orang lain seperti itu mah, wajib diberi pelajaran.

No comments:

Post a Comment

Post Populer