Salah satu hal yang
paling menyebalkan dalam hidupku adalah, saat harus berpanas-panasan didalam
angkot, gara-gara si supir angkotnya belum mau jalan alias lagi ngetem. Aku gak
berlebihan kan? kalau berada didalam angkot yang hampir penuh, ditengah
teriknya sinar mentari jam dua belas siang itu sangat menyebalkan?
Apalagi dikasih PHP
mulu sama si supir angkot, atau calo terminal, yang selalu bilang.
“Nunggu satu lagi
jalan…!”
Padahal mereka
berkata seperti itu, setiap kali ada yang naik, sumpah bikin dongkol abis. Pada
saat-saat seperti itu aku selalu membayangkan betapa enaknya jika punya
kendaraan pribadi, entah itu motor atau mobil gak penting, yang jelas gak perlu
ngetem, tapi gimana mau punya kendaraan pribadi, kerjaan saja belum punya, dan
saat itu aku pulang dari kantor pos, setelah mengirimkan beberapa surat lamaran
kerja ke perusahaan yang ada di daerah Jakarta, Bogor, Bekasi, Cikarang, dan
sekitarnya.
Hari itu memang aku
mengeposkan lamaran lumayan banyak, setetah mencari-cari info lowongan kerja
dari surat kabar, majalah, dan kabar burung, dengan harapan ada salah satu dari
lamaran itu yang nyangkut, gak perduli dimanapun tempatnya pasti aku datangi.
Hal itu terpaksa ku
lakukan, karena aku sudah menyerah mencari lowongan kerja di Sukabumi, setelah
beberapa kali mendapat penolakan, bahkan hinaan, masih ingatkan si satpam
tengil yang aku ceritakan? sumpah sampai sekarang aku masih ingat muka
tengilnya, ngeselin.
Lagi enak-enak
berhayal, ngebayangin betapa nyamannya naik mobil pribadi, gantian sama
ngebayangin betapa kerennya naik motor gede, tiba-tiba naik seorang Cewe
berseragam putih abu-abu, dan duduk tepat disampingku, padahal saat itu aku
duduk paling pojok.
Seharusnya Cewe yang
baru naik itu, duduk didekat pintu karena kondisi angkot hampir penuh, tapi
karena sudah ditempati maka dia harus masuk lebih dalam dan duduklah dia
disampingku.
Entah kenapa, dua
orang yang satu bangku denganku, lebih memilih
merapatkan duduknya ke dekat pintu keluar, menurut ku ada dua kemungkinan,
pertama bisa saja supaya gampang turun karena tujuannya dekat atau kedua,
memang sengaja menjauhiku, tapi sepertinya yang lebih masuk akal kemungkinan
yang pertama deh, karena kalo gak salah
sebelum berangkat ke kantor pos, aku mandi dulu.
“Robi? Dari mana?”
sapa Cewe itu ramah.
Awalnya aku kaget, karena
Cewe itu bisa tau namaku, padahal aku gak terkenal-terkenal banget, tapi
setelah diperhatikan lagi, akhirnya aku bisa mengenali Cewe berseragam putih
abu-abu yang lagi duduk disampingku itu.
“Dewi…?” tanya ku,
setengah gak percaya.
Sumpah! walaupun aku
sering melihat si Dewi, tapi itu pertama kalinya aku melihat si Dewi dengan
balutan seragam putih abu-abu, dan dengan seragam itu entah kenapa dia terlihat
lebih manis dan menggemaskan, ah mungkin karena seragamnya yang terlihat
kekecilan hehehe.
“Biasa aja kali,”
bisik Dewi, sambil mendekatkan mulutnya ketelingaku.
Dialah Dewi
Anggraini, bunga desa yang lagi mekar-mekarnya dan kebetulan pernah diintip
oleh ketiga orang temanku, saat dia sedang mencuci dipemandian umum, sebenarnya
aku juga berniat mau ikutan ngintip, karena keburu jatoh, gagal total deh,
hehehe.
Aku dengan si Dewi,
hanya terpaut umur satu tahun dan rumah kitapun hampir berdekatan, jika tidak
dihalangi oleh tiga rumah yang lain, tapi jangan pernah membayangkan jarak
setiap rumah di Perkampungan sama dengan di Jakarta yang berdempetan, karena
jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain di Perkampungan bisa sepuluh
meter, tapi itu dulu yah sekarang mah sudah penuh sesak.
Walaupun umur kita
hanya terpaut satu tahun, dan tetanggaan, tapi aku dan si Dewi memang gak
deket, bahkan nyaris kita hanya saling sapa saja jika kebetulan berpapasan,
salah satu interaksi yang paling konsisten yang kita lakukan adalah saat
salaman setelah selesai shalat Idul Fitri atau Idul Adha.
Padahal si Dewi itu temen
main, saat aku masih lucu-lucunya, sekitar umur empat atau lima tahunlah,
setelah masuk SD barulah ada jarak diantara kita, entah kenapa, mungkin salah
satunya kita gak barengan masuk sekolah dan sekolahan kitapun beda.
Ada sebuah moment
kebersamaan bareng si Dewi yang gak bisa aku lupakan, yaitu waktu si Dewi
bersama ibu, dan sodarnya, melihatku yang baru disunat, umur aku lima tahun
kalau gak salah.
“Igh…! Ko si Robi
itunya begitu…!” seru si Dewi yang masih polos dan lugu, sambil nunjuk sesuatu,
yang terasa perih dan menyakitkan untuk ku selama beberapa hari hehehe.
“Sooorrrryyy! habis
pangling.” jawabku, dengan memelankan suara, karena gak enak rasanya hanya
ngobrol berdua didalam angkot yang penuh sesak, oleh Ibu-Ibu yang baru pulang
dari pasar.
“Makanya, jangan
ngeliatin Cewe kota mulu” seru Dewi, sambil memeletkan lidahnya.
Yups, memang aku
jarang banget memperhatikan Cewe-Cewe yang ada di Kampung, gara-gara saat STM
aku masuk di sekolah kejuruan favorit yang ada di Kota Sukabumi, karena jarak
antara rumah dan sekolah yang sangat jauh, bahkan menempuh jarak hampir dua
jam, otomatis aku harus berangkat subuh dan pulang petang, karena rutinitas
itulah, aku gak sempat memperhatikan tumbuh kembang si Dewi, jadi bunga desa
yang mekar indah hehehe.
Tak ada obrolan lagi
didalam angkot. Sampai kita sama-sama turun, ditempat pemberhentian yang
memisahkan antara kampungku dan jalan raya, karena setelah turun dari angkot,
aku harus jalan kaki menyusuri jalan setapak yang samping kanan kirinya kebun,
dan sawah, menyebrangi sungai lewat jembatan kayu, dengan begitu banyaknya
tanjakan, dan turunan, supaya gampang menggambarkannya, ingat saja lagu theme songsnya Ninja Hatori.
“Mendaki gunung
lewati lembah, sungi mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang.”
Begitulah kira-kira theme songsnya Ninja Hatori.
“Woi deim aja! Emang
Cowo kota, bawannya diem gitu ya!” ketus Dewi, sambil menyusuri jalan setapak
yang belum dilapisi aspal atau coran.
“Apa sih? Cowo kota?
Gw orang kampong ko!” jawabku, tak kalah ketus.
Padahal itu pertama
kalinya kita ngobrol, setelah sekalian lama hanya saling sapa atau saling
lirik.
“Emang bener kan?
Kata anak-anak lo mah gak level sama Cewe kampung!” balas Dewi.
“Siapa yang ngomong
kaya gitu?” serentak kedua kaki ku berhenti berjalan.
“Ada pokonya yang
bilang” jawab Dewi, tanpa menghentikan langkah kakinya.
Reflek aku memegang pergelangan
tangan si Dewi, untuk menghentikan langkah kakinya.
“Denger ya Dew, gw
sih gak perduli yah sama omongan orang, tapi jangan sekali-kali lo percaya
omongan orang tanpa tau kebenaran!”
“Apa sih
pegang-pegang, bukan muhrim!” bentak Dewi sambil berusaha melapaskan tangannya.
“Halah waktu kecil,
lo ngedeketin gw mulu, sekarang bilang bukan muhrim!”
Kata-kata itu meluncur
begitu saja dari mulutku, tanpa lolos saringan lebih dulu, efeknya aku dibuat
jantungan karena menunggu resepon dari si Dewi, yang tampak tak senang dengan
serangkai kata tak sengaja itu.
“Bushet! Siapa yang
ngedeketin elo? PD benget, orang kota!” ketus Dewi.
“Lah, yang suka ngajakin
gw maen BP siapa?” balas ku.
BP itu semacam
permainan rumah-rumahan yang terbuat dari kertas, ada orangnya, rumahnya,
bajunya, mobilnya, dan lain sebagainya yang semua itu terbuat dari kertas.
Entah kenapa
mau-maunya saja dulu aku diajak maen begituan sama si Dewi, mungkin karena
disekitar rumahku saat itu hanya si Dewi anak seumuran yang biasa ngajak aku
main bareng, untung gak sampai merubah kepribadianku jadi melambai, gara-gara
keseringan main BP.
“Iya! dulu gw sering
ngajak lo maen BP, kenapa emang? tapi begitu masuk sekolah lo beda, lo
sombong!”
Dewi terdiam sesaat,
setelah dia meluapkan emosinya, deru nafasnya memburu seolah menahan sesuatu
yang siap meledak kapan saja, tentunya lengkap dengan tatapan mata tajam
menakutkan.
“Lo salah Dew, gw
bukan sombong, tapi malu”
“Ga tau kenapa, badan
makin gede, rasa malu gw ikutan makin gede, bahkan sekedar buat nyapa elo saja
gw malu banget Dew!”
“Elo? Seorang Robi
yang katanya Play Boy di SMP malu?” seru Dewi dengan senyuman sinisnya.
Ditengah pematang
sawah, dibawah teriknya mentari yang sedang tinggi-tingginya, dua manusia
terjebak dalam situasi yang tak terduga, begitu mendadak dan tiba-tiba seperti
sunami yang datang tanpa pemberitahuan, namun sangat efektif meluluh lantakkan
setiap yang dilaluinya.
“Play Boy? Ngaco! Gw
emang deket sama banyak Cewe, tapi mereka yang ngedeketin!” kini gantian aku
yang melanjutkan langkah dan meninggalkan si Dewi yang masih mematung kaku,
dijalan setapak yang sepi, dan dibawah rimbun pepohonan.
“Gak Usah sok
kegantengan deh!” teriak si Dewi.
“Lah itu fakta!”
jawabku penuh percaya diri, dan nyaris sombong.
Saat itu aku hanya
memalingkan wajah saja, saat menjawab teriakan si Dewi, itupun ku lakukan dalam
waktu yang sangat singkat, supaya terkesan keren.
“Orang Kota! Waktu
itu, lo ngintip gw ya?” teriak Dewi, yang seketika sukses menghentikan langkah
kaki, dan menerbangakn kesembongan dan kepercayaan diriku bersama angin, yang
seketika berhembus, dan menghilang.
Aku diam ditempat,
tanpa sanggup menoleh kearah si Dewi, dan wajahku rasanya panas mendadak
begitupun kedua telinga, entah seperti apa penampakan wajahku saat itu, kalau
penasaran, bayangkan saja warna hitam bercampur dengan merah hasilnya kira-kira
akan seperti apa, tapi hitamnya standar orang jawa barat ya, jangan orang
timur, eh.
Sungguh aku gak pernah menduga jika kalimat
itu akan keluar dari mulut si Dewi, karana aku dan ketiga orang temanku sempat
mengira si Dewi tak menyadari, kejadian apes siang itu.
Jujur saja, saat itu aku
serasa mendapat sambaran petir di siang hari yang telak sekali, menyambar muka
yang langsung gosong seketika, untung tempat itu sepi dan sepertinya hanya ada
aku dan Dewi saja ditempat itu, coba kalau banyak orang, bisa tambah gosong
wajah ku.
Perlahan terdengar
suara derap langkah si Dewi yang semakin mendekat, namun aku masih belum berani
menoleh kearahnya.
Saat suara langkah
kaki itu terdengar semakin mendekat, sel-sel dalam otakku seraya memberikan
perintah kepada seluruh anggota badan, untuk bergerak dan bergegas
meninggalakan tempat itu secepat-cepatnya, tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.
Sumpah itulah hal
bodoh yang aku lakukan disiang itu, seperti maling yang tertangkap basah, maka
aku berusaha kabur secepat dan sejauh mungkin, untuk menyelamatkan diri, itu
alami, sebagai repon untuk mempertahankan dari, tapi bodoh, karena pastinya aku
bukan maling.
Cemen memang tindakan
ku itu, tapi sumpah aku gak sanggup berhadapan dengan si Dewi saat itu, ada
rasa malu teramat besar yang gak mampu aku tanggung jika harus berhadapan dengannya, sekedar
untuk meminta maaf atau memberikan penjelasan.
Padahal sekencang
apapun aku lari, dan seaman apapun persembunyianku, tak mungkin aku bisa
selamanya menghindar darinya, alasannya sudah jelas, karena kita tetanggan.
No comments:
Post a Comment