Thursday, April 4, 2019

Part 6 : Ternyata Dia Tau



Salah satu hal yang paling menyebalkan dalam hidupku adalah, saat harus berpanas-panasan didalam angkot, gara-gara si supir angkotnya belum mau jalan alias lagi ngetem. Aku gak berlebihan kan? kalau berada didalam angkot yang hampir penuh, ditengah teriknya sinar mentari jam dua belas siang itu sangat menyebalkan?

Apalagi dikasih PHP mulu sama si supir angkot, atau calo terminal, yang selalu bilang.

“Nunggu satu lagi jalan…!”

Padahal mereka berkata seperti itu, setiap kali ada yang naik, sumpah bikin dongkol abis. Pada saat-saat seperti itu aku selalu membayangkan betapa enaknya jika punya kendaraan pribadi, entah itu motor atau mobil gak penting, yang jelas gak perlu ngetem, tapi gimana mau punya kendaraan pribadi, kerjaan saja belum punya, dan saat itu aku pulang dari kantor pos, setelah mengirimkan beberapa surat lamaran kerja ke perusahaan yang ada di daerah Jakarta, Bogor, Bekasi, Cikarang, dan sekitarnya.

Hari itu memang aku mengeposkan lamaran lumayan banyak, setetah mencari-cari info lowongan kerja dari surat kabar, majalah, dan kabar burung, dengan harapan ada salah satu dari lamaran itu yang nyangkut, gak perduli dimanapun tempatnya pasti aku datangi.

Hal itu terpaksa ku lakukan, karena aku sudah menyerah mencari lowongan kerja di Sukabumi, setelah beberapa kali mendapat penolakan, bahkan hinaan, masih ingatkan si satpam tengil yang aku ceritakan? sumpah sampai sekarang aku masih ingat muka tengilnya, ngeselin.

Lagi enak-enak berhayal, ngebayangin betapa nyamannya naik mobil pribadi, gantian sama ngebayangin betapa kerennya naik motor gede, tiba-tiba naik seorang Cewe berseragam putih abu-abu, dan duduk tepat disampingku, padahal saat itu aku duduk paling pojok.

Seharusnya Cewe yang baru naik itu, duduk didekat pintu karena kondisi angkot hampir penuh, tapi karena sudah ditempati maka dia harus masuk lebih dalam dan duduklah dia disampingku.

Entah kenapa, dua orang  yang satu bangku denganku, lebih memilih merapatkan duduknya ke dekat pintu keluar, menurut ku ada dua kemungkinan, pertama bisa saja supaya gampang turun karena tujuannya dekat atau kedua, memang sengaja menjauhiku, tapi sepertinya yang lebih masuk akal kemungkinan yang pertama deh, karena  kalo gak salah sebelum berangkat ke kantor pos, aku mandi dulu.

“Robi? Dari mana?” sapa Cewe itu ramah.

Awalnya aku kaget, karena Cewe itu bisa tau namaku, padahal aku gak terkenal-terkenal banget, tapi setelah diperhatikan lagi, akhirnya aku bisa mengenali Cewe berseragam putih abu-abu yang lagi duduk disampingku itu.

“Dewi…?” tanya ku, setengah gak percaya.

Sumpah! walaupun aku sering melihat si Dewi, tapi itu pertama kalinya aku melihat si Dewi dengan balutan seragam putih abu-abu, dan dengan seragam itu entah kenapa dia terlihat lebih manis dan menggemaskan, ah mungkin karena seragamnya yang terlihat kekecilan hehehe.

“Biasa aja kali,” bisik Dewi, sambil mendekatkan mulutnya ketelingaku.

Dialah Dewi Anggraini, bunga desa yang lagi mekar-mekarnya dan kebetulan pernah diintip oleh ketiga orang temanku, saat dia sedang mencuci dipemandian umum, sebenarnya aku juga berniat mau ikutan ngintip, karena keburu jatoh, gagal total deh, hehehe. 

Aku dengan si Dewi, hanya terpaut umur satu tahun dan rumah kitapun hampir berdekatan, jika tidak dihalangi oleh tiga rumah yang lain, tapi jangan pernah membayangkan jarak setiap rumah di Perkampungan sama dengan di Jakarta yang berdempetan, karena jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain di Perkampungan bisa sepuluh meter, tapi itu dulu yah sekarang mah sudah penuh sesak.

Walaupun umur kita hanya terpaut satu tahun, dan tetanggaan, tapi aku dan si Dewi memang gak deket, bahkan nyaris kita hanya saling sapa saja jika kebetulan berpapasan, salah satu interaksi yang paling konsisten yang kita lakukan adalah saat salaman setelah selesai shalat Idul Fitri atau Idul Adha.

Padahal si Dewi itu temen main, saat aku masih lucu-lucunya, sekitar umur empat atau lima tahunlah, setelah masuk SD barulah ada jarak diantara kita, entah kenapa, mungkin salah satunya kita gak barengan masuk sekolah dan sekolahan kitapun beda.

Ada sebuah moment kebersamaan bareng si Dewi yang gak bisa aku lupakan, yaitu waktu si Dewi bersama ibu, dan sodarnya, melihatku yang baru disunat, umur aku lima tahun kalau gak salah.

“Igh…! Ko si Robi itunya begitu…!” seru si Dewi yang masih polos dan lugu, sambil nunjuk sesuatu, yang terasa perih dan menyakitkan untuk ku selama beberapa hari hehehe.

“Sooorrrryyy! habis pangling.” jawabku, dengan memelankan suara, karena gak enak rasanya hanya ngobrol berdua didalam angkot yang penuh sesak, oleh Ibu-Ibu yang baru pulang dari pasar.

“Makanya, jangan ngeliatin Cewe kota mulu” seru Dewi, sambil memeletkan lidahnya.

Yups, memang aku jarang banget memperhatikan Cewe-Cewe yang ada di Kampung, gara-gara saat STM aku masuk di sekolah kejuruan favorit yang ada di Kota Sukabumi, karena jarak antara rumah dan sekolah yang sangat jauh, bahkan menempuh jarak hampir dua jam, otomatis aku harus berangkat subuh dan pulang petang, karena rutinitas itulah, aku gak sempat memperhatikan tumbuh kembang si Dewi, jadi bunga desa yang mekar indah hehehe.

Tak ada obrolan lagi didalam angkot. Sampai kita sama-sama turun, ditempat pemberhentian yang memisahkan antara kampungku dan jalan raya, karena setelah turun dari angkot, aku harus jalan kaki menyusuri jalan setapak yang samping kanan kirinya kebun, dan sawah, menyebrangi sungai lewat jembatan kayu, dengan begitu banyaknya tanjakan, dan turunan, supaya gampang menggambarkannya, ingat saja lagu theme songsnya Ninja Hatori.

“Mendaki gunung lewati lembah, sungi mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang.”

Begitulah kira-kira theme songsnya Ninja Hatori.

“Woi deim aja! Emang Cowo kota, bawannya diem gitu ya!” ketus Dewi, sambil menyusuri jalan setapak yang belum dilapisi aspal atau coran.

“Apa sih? Cowo kota? Gw orang kampong ko!” jawabku, tak kalah ketus.
Padahal itu pertama kalinya kita ngobrol, setelah sekalian lama hanya saling sapa atau saling lirik.

“Emang bener kan? Kata anak-anak lo mah gak level sama Cewe kampung!” balas Dewi.

“Siapa yang ngomong kaya gitu?” serentak kedua kaki ku berhenti berjalan.

“Ada pokonya yang bilang” jawab Dewi, tanpa menghentikan langkah kakinya.

Reflek aku memegang pergelangan tangan si Dewi, untuk menghentikan langkah kakinya.

“Denger ya Dew, gw sih gak perduli yah sama omongan orang, tapi jangan sekali-kali lo percaya omongan orang tanpa tau kebenaran!”

“Apa sih pegang-pegang, bukan muhrim!” bentak Dewi sambil berusaha melapaskan tangannya.

“Halah waktu kecil, lo ngedeketin gw mulu, sekarang bilang bukan muhrim!” 

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, tanpa lolos saringan lebih dulu, efeknya aku dibuat jantungan karena menunggu resepon dari si Dewi, yang tampak tak senang dengan serangkai kata tak sengaja itu.

“Bushet! Siapa yang ngedeketin elo? PD benget, orang kota!” ketus Dewi.

“Lah, yang suka ngajakin gw maen BP siapa?” balas ku.

BP itu semacam permainan rumah-rumahan yang terbuat dari kertas, ada orangnya, rumahnya, bajunya, mobilnya, dan lain sebagainya yang semua itu terbuat dari kertas. 

Entah kenapa mau-maunya saja dulu aku diajak maen begituan sama si Dewi, mungkin karena disekitar rumahku saat itu hanya si Dewi anak seumuran yang biasa ngajak aku main bareng, untung gak sampai merubah kepribadianku jadi melambai, gara-gara keseringan main BP.

“Iya! dulu gw sering ngajak lo maen BP, kenapa emang? tapi begitu masuk sekolah lo beda, lo sombong!” 

Dewi terdiam sesaat, setelah dia meluapkan emosinya, deru nafasnya memburu seolah menahan sesuatu yang siap meledak kapan saja, tentunya lengkap dengan tatapan mata tajam menakutkan.

“Lo salah Dew, gw bukan sombong, tapi malu”

“Ga tau kenapa, badan makin gede, rasa malu gw ikutan makin gede, bahkan sekedar buat nyapa elo saja gw malu banget Dew!”

“Elo? Seorang Robi yang katanya Play Boy di SMP malu?” seru Dewi dengan senyuman sinisnya.

Ditengah pematang sawah, dibawah teriknya mentari yang sedang tinggi-tingginya, dua manusia terjebak dalam situasi yang tak terduga, begitu mendadak dan tiba-tiba seperti sunami yang datang tanpa pemberitahuan, namun sangat efektif meluluh lantakkan setiap yang dilaluinya.

“Play Boy? Ngaco! Gw emang deket sama banyak Cewe, tapi mereka yang ngedeketin!” kini gantian aku yang melanjutkan langkah dan meninggalkan si Dewi yang masih mematung kaku, dijalan setapak yang sepi, dan dibawah rimbun pepohonan.

“Gak Usah sok kegantengan deh!” teriak si Dewi.

“Lah itu fakta!” jawabku penuh percaya diri, dan nyaris sombong.

Saat itu aku hanya memalingkan wajah saja, saat menjawab teriakan si Dewi, itupun ku lakukan dalam waktu yang sangat singkat, supaya terkesan keren.

“Orang Kota! Waktu itu, lo ngintip gw ya?” teriak Dewi, yang seketika sukses menghentikan langkah kaki, dan menerbangakn kesembongan dan kepercayaan diriku bersama angin, yang seketika berhembus, dan menghilang.

Aku diam ditempat, tanpa sanggup menoleh kearah si Dewi, dan wajahku rasanya panas mendadak begitupun kedua telinga, entah seperti apa penampakan wajahku saat itu, kalau penasaran, bayangkan saja warna hitam bercampur dengan merah hasilnya kira-kira akan seperti apa, tapi hitamnya standar orang jawa barat ya, jangan orang timur, eh.

 Sungguh aku gak pernah menduga jika kalimat itu akan keluar dari mulut si Dewi, karana aku dan ketiga orang temanku sempat mengira si Dewi tak menyadari, kejadian apes siang itu.

Jujur saja, saat itu aku serasa mendapat sambaran petir di siang hari yang telak sekali, menyambar muka yang langsung gosong seketika, untung tempat itu sepi dan sepertinya hanya ada aku dan Dewi saja ditempat itu, coba kalau banyak orang, bisa tambah gosong wajah ku.

Perlahan terdengar suara derap langkah si Dewi yang semakin mendekat, namun aku masih belum berani menoleh kearahnya. 

Saat suara langkah kaki itu terdengar semakin mendekat, sel-sel dalam otakku seraya memberikan perintah kepada seluruh anggota badan, untuk bergerak dan bergegas meninggalakan tempat itu secepat-cepatnya, tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.

Sumpah itulah hal bodoh yang aku lakukan disiang itu, seperti maling yang tertangkap basah, maka aku berusaha kabur secepat dan sejauh mungkin, untuk menyelamatkan diri, itu alami, sebagai repon untuk mempertahankan dari, tapi bodoh, karena pastinya aku bukan maling.

Cemen memang tindakan ku itu, tapi sumpah aku gak sanggup berhadapan dengan si Dewi saat itu, ada rasa malu teramat besar yang gak mampu aku tanggung  jika harus berhadapan dengannya, sekedar untuk meminta maaf atau memberikan penjelasan.

Padahal sekencang apapun aku lari, dan seaman apapun persembunyianku, tak mungkin aku bisa selamanya menghindar darinya, alasannya sudah jelas, karena kita tetanggan.

No comments:

Post a Comment

Post Populer