“Jadi, Cowo kota itu
emang pengecut ya?” bisik seseorang dari arah belakang.
Waktu itu aku sedang
menunggu pemilik warung, menyiapkan barang belanjaanku, yaitu mecin dan terasi,
biasalah berhubung masih nganggur dan kerjaan ku hanya gulang-guling diatas
kasur, maka Ibu dengan cerdas memanfaatkan momen itu dan menjadikanku kurir
pribadinya, yang bebas ongkos kirim, asssseeeem.
Jujur saja, badanku
seketika panas dingin saat mendegar suara bisikan dari seorang cewe yang
beberapa hari terakhir selalu berusaha ku hindari, tapi hari itu rupanya ku gak
mampu berkutik, apalagi menghindar darinya.
“Eh, Dew! Sorrry
kkkemaren gw kebelet pengen pipis!” satu kalimat sakti, yang jelas sebuah
alasan, meluncur begitu saja dari mulutku, walaupun dengan terbata-bata.
“Hallaaaaaah,
alasan!” ketus Dewi, sinis.
“Ini Bi, jadi lima
ribu rupiah ya!” seru Emak idoh si pemilik warung, sambil memberikan sebuah
bungkusan dari koran, yang isinya sudah pasti mecin dan terasi pesenan Ibuku.
“Lo beli terasi? Mau
ngapain?” tanya Dewi, penasaran.
Bushet penciuman si
Dewi sakti juga, padahal sudah jelas terasi sama mecin itu dibungkus pake
koran, tapi masih aja bisa diendusnya.
“Biasalah pesenan
mamah” jawabku spontan.
“Cieeeee, anak
mamah!” ledek Dewi.
Apes deh,
bisa-bisanya aku tertangkap basah beli terasi, tapi gak masalah sih, karena hal
itu justru mengalihkan topik pembicaraan sebelumnya, dimana posisiku sudah
terpojok, seperti maling yang sudah dikerubuni warga, tinggal nunggu dibakar.
“Lah emang gw anak
mamah, baru tau?” jawab ku ketus, dan bersiap meninggalkan si Dewi.
“Eh, Bi…, bilangin
sama temen lo si Sandi, gw gak level sama Cowo kampung, level gw Cowo kota!”
Entah apa maksud si
Dewi, aku sama sekali gak bisa nangkap omongannya, tapi yang jelas aku sempat
melihat sebuah senyuman manis yang terlukis dibibir mungilnya.
Aku
gak ambil pusing dan bergegas pulang kerumah, karena aku yakin, Ibu pasti sudah
menunggu mecin sama terasi yang aku beli, bisa berabe kalau aku kelamaan.
“San, lo lagi
ngedeketin si Dewi?” tanyaku.
“Ughu.. Ughuu..”
Si Sandi keselek air
kelapa muda, yang lagi ditenggaknya, kebetulan kita memang sedang menikmati
segarnya air kelapa muda, yang langsung dipetik dari pohonnya, di kebun milik
Bapak.
“Selow, Bro, kaget
banget ya? Hahahaha.”
Sumpah aku tak mampu
menahan tawa, karena ekspresi muka si Sandi waktu keselek kocak abis, tapi
susah banget menggambarkannya, hehehe.
“Sue! Kagetlah
tiba-tiba lo nanya kaya gitu” umpat si Sandi.
“Sejak kapan lo suka
sama si Dewi?” tanyaku.
“Kira-kira, sehari setelah
kita ngintip dia nyuci di pemandian, ahahahaahah” jawabnya, yang membuat ku
seketika terpingkal-pingkal.
“Sumpah Bi,
kebayang-bayang mulu sampe kebawa mimpi” tambahnya.
“Dasar geblek, mimpi
basah dong loh?”
“Iya, ahahahahaha.”
Dan kitapun kompak
tertawa, memang menertawakan kekonyolan diri sendiri itu sangat menyenangkan,
apalagi menertawakan kekonyolan teman.
“Eh Bi, lo tau dari
mana gw suka sama si Dewi?” tanya si Sandi, saat itu dia tampak serius.
“Orang si Dewi
sendiri yang ngomong!”
“Lah serius, dia
bilang apa? Dia bilang suka sama gw kan?” si Sandi makin serius.
“Apaan, dia bilang gak
level sama orang kampung, levelnya orang kota!” jawab ku seadanya.
“Serius, dia ngomong
kaya gitu?”
“Iya, kalo gak
percaya, tanya aja sama Mak Idoh”
“Lah, ko bawa-bawa
Nenek gw lo? Sue!”
“Mak Idoh yang punya
warung, bukan Nenek lo cumi!”
“Ko bisa Mak Idoh
tukang warung tau?”
“Argh…! banyak nanya
lo! Jadi haus gw” umpat ku, saking keselnya, lalu nenggak air kelapa muda jatah
si Sandi.
“Bushet itukan punya
gw!” teriak si Sandi gak rela air kelapa mudanya aku habiskan.
“Sembarangan lo! pohonnya punya siapa?” jawab ku asal.
“Sue, musti di santet
nih!” seru si sandi lirih, dengan raut muka yang menyiratkan keseriusan.
“Udah gila lo ya,
masa gara-gara air kelapa doang gw mau di santet, manjat lagi aja masih mau mah!”
kataku panik, karena setauku embahnya si Sandi memang jagonya masalah begituan.
“Apaan si Bi? Maksud
gw si Dewi, najis inggris gw musti nyantet Elo, buang-buang kemenyan!” jawabnya
yang langsung membuat ku lega.
“Yaudah santet aja
bro, biar nempel sama Elo, hehehehe.” kataku asal, sekedar berusaha
menghilangkan kepanikan.
Memang berteman
dengan temanku yang satu itu, harus pandai-pandai menjaga hatinya, bikin dia
kesel dikit berabe, silet sama paku bisa masuk ke perut, hehehe.
“Tunggu aja Bro
tanggal maennya, entar lo liat si Dewi bakalan nempel terus sama gw
Ahahahahhaa!” cetus si Sandi, sambil berdiri dan mengepalkan tangan kanannya
kelangit, mirip tokoh jahat di sinetron.
Entah saat itu si
Sandi serius atau engga, aku gak perduli, mau si Dewi disanten kaya gimana juga
aku sih gak masalah, yang penting bukan
aku yang disantet hehehehe.
No comments:
Post a Comment