Thursday, April 4, 2019

Part 7 : Intimidasi Dewi



“Jadi, Cowo kota itu emang pengecut ya?” bisik seseorang dari arah belakang.

Waktu itu aku sedang menunggu pemilik warung, menyiapkan barang belanjaanku, yaitu mecin dan terasi, biasalah berhubung masih nganggur dan kerjaan ku hanya gulang-guling diatas kasur, maka Ibu dengan cerdas memanfaatkan momen itu dan menjadikanku kurir pribadinya, yang bebas ongkos kirim, asssseeeem.

Jujur saja, badanku seketika panas dingin saat mendegar suara bisikan dari seorang cewe yang beberapa hari terakhir selalu berusaha ku hindari, tapi hari itu rupanya ku gak mampu berkutik, apalagi menghindar darinya.

“Eh, Dew! Sorrry kkkemaren gw kebelet pengen pipis!” satu kalimat sakti, yang jelas sebuah alasan, meluncur begitu saja dari mulutku, walaupun dengan terbata-bata.

“Hallaaaaaah, alasan!” ketus Dewi, sinis.

“Ini Bi, jadi lima ribu rupiah ya!” seru Emak idoh si pemilik warung, sambil memberikan sebuah bungkusan dari koran, yang isinya sudah pasti mecin dan terasi pesenan Ibuku.

“Lo beli terasi? Mau ngapain?” tanya Dewi, penasaran.

Bushet penciuman si Dewi sakti juga, padahal sudah jelas terasi sama mecin itu dibungkus pake koran, tapi masih aja bisa diendusnya.

“Biasalah pesenan mamah” jawabku spontan.

“Cieeeee, anak mamah!” ledek Dewi.

Apes deh, bisa-bisanya aku tertangkap basah beli terasi, tapi gak masalah sih, karena hal itu justru mengalihkan topik pembicaraan sebelumnya, dimana posisiku sudah terpojok, seperti maling yang sudah dikerubuni warga, tinggal nunggu dibakar.

“Lah emang gw anak mamah, baru tau?” jawab ku ketus, dan bersiap meninggalkan si Dewi.

“Eh, Bi…, bilangin sama temen lo si Sandi, gw gak level sama Cowo kampung, level gw Cowo kota!”

Entah apa maksud si Dewi, aku sama sekali gak bisa nangkap omongannya, tapi yang jelas aku sempat melihat sebuah senyuman manis yang terlukis dibibir mungilnya. 

Aku gak ambil pusing dan bergegas pulang kerumah, karena aku yakin, Ibu pasti sudah menunggu mecin sama terasi yang aku beli, bisa berabe kalau aku kelamaan.

“San, lo lagi ngedeketin si Dewi?” tanyaku.

“Ughu.. Ughuu..”

Si Sandi keselek air kelapa muda, yang lagi ditenggaknya, kebetulan kita memang sedang menikmati segarnya air kelapa muda, yang langsung dipetik dari pohonnya, di kebun milik Bapak.

“Selow, Bro, kaget banget ya? Hahahaha.”

Sumpah aku tak mampu menahan tawa, karena ekspresi muka si Sandi waktu keselek kocak abis, tapi susah banget menggambarkannya, hehehe.

“Sue! Kagetlah tiba-tiba lo nanya kaya gitu” umpat si Sandi.

“Sejak kapan lo suka sama si Dewi?” tanyaku.
“Kira-kira, sehari setelah kita ngintip dia nyuci di pemandian, ahahahaahah” jawabnya, yang membuat ku seketika terpingkal-pingkal.

“Sumpah Bi, kebayang-bayang mulu sampe kebawa mimpi” tambahnya.

“Dasar geblek, mimpi basah dong loh?”

“Iya, ahahahahaha.”

Dan kitapun kompak tertawa, memang menertawakan kekonyolan diri sendiri itu sangat menyenangkan, apalagi menertawakan kekonyolan teman.

“Eh Bi, lo tau dari mana gw suka sama si Dewi?” tanya si Sandi, saat itu dia tampak serius.

“Orang si Dewi sendiri yang ngomong!”

“Lah serius, dia bilang apa? Dia bilang suka sama gw kan?” si Sandi makin serius.

“Apaan, dia bilang gak level sama orang kampung, levelnya orang kota!” jawab ku seadanya.

“Serius, dia ngomong kaya gitu?”

“Iya, kalo gak percaya, tanya aja sama Mak Idoh”

“Lah, ko bawa-bawa Nenek gw lo? Sue!”

“Mak Idoh yang punya warung, bukan Nenek lo cumi!”

“Ko bisa Mak Idoh tukang warung tau?”

“Argh…! banyak nanya lo! Jadi haus gw” umpat ku, saking keselnya, lalu nenggak air kelapa muda jatah si Sandi.

“Bushet itukan punya gw!” teriak si Sandi gak rela air kelapa mudanya aku habiskan.

“Sembarangan lo!  pohonnya punya siapa?” jawab ku asal.

“Sue, musti di santet nih!” seru si sandi lirih, dengan raut muka yang menyiratkan keseriusan.

“Udah gila lo ya, masa gara-gara air kelapa doang gw mau di santet, manjat lagi aja masih mau mah!” kataku panik, karena setauku embahnya si Sandi memang jagonya masalah begituan.

“Apaan si Bi? Maksud gw si Dewi, najis inggris gw musti nyantet Elo, buang-buang kemenyan!” jawabnya yang langsung membuat ku lega.

“Yaudah santet aja bro, biar nempel sama Elo, hehehehe.” kataku asal, sekedar berusaha menghilangkan kepanikan.

Memang berteman dengan temanku yang satu itu, harus pandai-pandai menjaga hatinya, bikin dia kesel dikit berabe, silet sama paku bisa masuk ke perut, hehehe.

“Tunggu aja Bro tanggal maennya, entar lo liat si Dewi bakalan nempel terus sama gw Ahahahahhaa!” cetus si Sandi, sambil berdiri dan mengepalkan tangan kanannya kelangit, mirip tokoh jahat di sinetron.

Entah saat itu si Sandi serius atau engga, aku gak perduli, mau si Dewi disanten kaya gimana juga aku sih gak masalah,  yang penting bukan aku yang disantet hehehehe.

No comments:

Post a Comment

Post Populer